Pelarian Pasangan Inses Ditengah Penolakan Keluarga Dan Warga

Kisah Pelarian Pasangan Inses ditengah Penolakan keluarga dan warga.

Oleh : Budhy Pardiana

” Kutanya malam,dapatkah kau lihatnya perbedaan
yang tak terungkapkan,
tapi mengapa,  kau tak berubah……
Ada Apa denganmu..? ………….

Syair lagu Perterpen itu terdengar begitu menyayat. Aku penasaran ingin melihat siapa pengamen yang lagi bernyanyi disamping warung sebelah. Nampaknya seorang wanita muda kira-kira berusia 16 tahun tengah menyodorkan kantong kecil dari bungkus rokok. Pakaiannya compang-camping dengan rambut dibiarkan terurai. Mukanya sangat pucat, sepertinya ia sakit.  “ permisi pa….. permisi pa” pinta gadis itu kepada orang-orang yang lagi makan sambil menyodorkan bungkus rokok yang bagian penutupnya terbuka dan didalamnya sudah berisi uang pecahan seribuan sangat lusuh.

Wajah gadis ini langsung berubah. Kerling pipinya mengembang sehingga membuat giginya yang putih semakin terlihat kontras akibat sorotan lampu yang berada tepat diatas kepalanya.  “ ayo ka, kita coba ke warung sebelah “ ajak  wanita itu sambil tersenyum dan menarik tangan kiri seorang lelaki yang bermain gitar tadi. Tangan kiri lelaki itu langsung menyambut dan tangan kanannya langsung menyandarkan gitarnya kebagian punggung.

Sebelum masuk, tepatnya di depan warung lelaki pembawa gitar tadi sempat tengak-tengok membaca layar penutup dan sesekali kepalanya masuk melihat suasana orang-orang yang lagi makan. “ Permisi pa..bu.” sapa lelaki ini dengan suara rendah dan mulai memainkan gitarnya. baru saja mulutnya terbuka untuk melantunkan syair lagu, tiba-tiba teriakan dari belakang etalase terdengar jelas. “ jangan disini mas. Nga liat apa tullisan dikaca.” Gertak pemilik warung sambil menujukan tanggannya ke kaca dengan muka sedikit marah. “ Maaf , saya engga liat pa. Boleh saya ngamen disini pa” sahut lelaki ini. “ udah nga usah.!! ganggu orang yang lagi makan aja. Udah jelas disini engga boleh ngamen” Timpal pemilik warung.

Melihat lelakinya dibentak dan diusir oleh pemilik warung. Muka gadis tadi langsung murung. Kelopak matanya mengumpal seperti menahan air mata. Mereka berdua langsung keluar dan berjalan ke sebuah bangunan ruko kosong yang gelap. Namun sebelum sampai dihalaman ruko, tiba-tiba langkah gadis itu terhenti. Tanggan kirinya memegang kepala, sementara tangannya kanannya memegang perut. Sweter tipis yang melakat dibadannya mulai terbuka sehingga tampak dari samping perutnya agak membuncit. Sepertinya gadis itu sedang hamil. Tangan lelaki itu spontan langsung merangkul tubuh sang gadis dengan mesra sambil mengajak gadis itu duduk dilantai.

Perempuan ini mulai manja. Kepalanya ia sandarkan dipundak lelaki tadi sambil menghapus air matanya yang jatuh menetes dan membasahi pipinya. Tak lama, lelaki itu langsung berdiri dan keluar dari kegelapan. Selang sepuluh menit ia datang sambil membawa bungkusan berisi roti dan air minum. Lelaki itu menyuapin roti dan memberikannya minum serta Sesekali tangannya membelai rambut sang gadis. Terkadang keduanya seperti canggung. Entah karena malu atau risih.

Aku yang menyaksikan secara seksama dari tadi mencoba menghampiri keduanya. Awalnya sih akan memberikan sedikit uang karena merasa kasian setelah melihat mereka diusir oleh pemiik warung. Belum juga sampe didepan mereka, telingaku mendengar sayup-sayup percakapan keduanya. “ kak, kita harus kemana lagi. Inda udah cape jalan terus. Kepala makin pusing” tanya gadis itu yang menyebut namanya inda. “ ya kita akan terus jalan sampe orang-orang menginjinkan keinginan kita” jawab sang lelaki. keduanya kaget melihat ada yang datang. Belaian tangan silelaki sepontan langsung dilepas tapi kepala indah masih menyandar dipundak kekasihnya. Tampaknya mereka ragu dan berusaha menutupi kemesraannya itu.

Biar mereka enggak ketakutan, aku langsung menyapa dan mengenalkan diri. Mereka yang sebelumnya terlihat sungkan langsung membalas sapaanku. “ ada apa ya mas “ kata lelaki itu dengan logat bahasa ketimuran. “ namamu siapa” tanyaku. “ akhmad dan ini indah” jawabnya. Gadis itu memandangku dengan sorotan mata yang tajam, tetapi aku berusaha menjelaskan niatku. Pelan-pelan gadis itu mulai tau niat baiku dan dia berusaha melepaskan sandaran kepala dipundak akhmad sambil menggeserkan posisinya dengan merebahkan punggungnya dipintu rolling dor  ruko itu.

Pakaian keduanya sangat lusuh, tapi sikap dan wajah mereka lebih menjelaskan bahwa keduanya bukan orang biasa. Aku mengira mereka ini orang berada. Wajah pasangan ini masih lugu dan sangat bersih, hanya rambut saja terliat acak-acakan. Aku mulai curiga ketika cahaya lampu ruko sebelah sesekali menerangi tempat kita berbincang-bincang sehingga wajah keduanya terlihat jelas. Ada kemiripan bagian wajah Akhmad dan Indah. Dibangian dahi keduanya ada belahan serta bentuk muka yang sama. “ ah, nga mungkin lah” gumamku dalam hati.

Tiba-Tiba Indah merintih kesakitan. Roti yang dimakannya tadi keluar lagi. Wajahnya merah dan tak henti-hentinya mengeluarkan cairan dan makanan dari muluttnya. Aku menyarankan Akhmad untuk membawanya ke rumah sakit. Awalnya Akhmad enggan dengan alasan ngak punya uang untuk membayar biaya pengobatan di rumah sakit. Tapi lagi-lagi aku bujuk dan akhirnya dia mau membawa kekasihnya ke unit gawat darurat. Dengan wajah cemas dan panik, Akhmad mencari tukang becak. Kebetulan, tukang beca yang biasa mangkal di ujung gang Salawe dijalan tentara pelajar masih ada.

Indah rupanya sudah tak kuat lagi berjalan. Pusing dikepalanya makin menjadi. Akhmad pun langsung memapah indah naik beca. Aku yang datang kesana membawa sepeda motor langsung mengikutinya ke rumah sakit. Di rumah sakit, Indah mendapatkan perawatan diruang UGD. Tensi darahnya rendah. Dokter menyarankannya untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit karena Indah sedang hamil. Akhmad mulai tersipu malu dan dia berusaha menunjukan sikapnya sebagai seorang suami dengan mencium kening Indah. Tapi Indah sepertinya ragu, dia menunjukan sikap yang canggung.

Apalagi saat perawat bagian administrasi meminta data pasien. Tiba-tiba muka Akhmad dan Indah berubah cemas. Raut muka keduanya menunjukan ada yang disembunyikan.  Aku yang dari tadi melihat kegelisahan akhmad mulai curiga. “ Mana ktp mu de “ pinta Akhmad. “  ada didompet “ kata Indah sambil menyodorkan sebuah dompet warna pink yang diselipkan disaku celananya. Entah apa yang dipikirkan Akhmad seolah dia bingung dan menghindar dari ruangan tempat Indah terbaring serta mengabaikan sang perawat bagian administrasi tadi yang menunggu diruangan. Akupun penasaran dan mulai mengikuti Akhmad. Diluar pintu Akhmad sedang gelisah dan aku mencoba menghampiri seraya bertanya. “ ada apa mad “ tanyaku. “ nga ada apa-apa mas, aku hanya bingung soaldana.” Jelas dia sambil menunjukan uangnya yang tinggal hanya beberapa lembar uang lima ribuan ditambah lembaran seribuan yang sudah lusuh. “ daftarin aja dulu, yang penting Indah dirawat dulu. Soal dana kan bisa dicari” jelasku sambil meyakinkan Akhmad.
Rencanaku waktu itu, kalau sampai terjadi kesulitan aku akan berusaha membantu mencari dana dengan temanku yang sama-sama wartawan  yang mangkal setiap hari dikamar mayat. Akhmad akhirnya mengerti. Wajahnya nampak senang. Kemudian dia menyodorkan KTP milik dia dan satu lagi kartu osis milik Indah. “ udah tenang aja, nanti kita bantu. Sekarang temani indah diruangan. Kasian dia sendiri” .

Aku langsung ke ruangan administrasi. Namun setelah ktp itu kukasihkan ke petugas bagian administrasi. Selang beberapa waktu, mereka bertanya. “ mas, ini yang pasien yang kartu osis ya. Dia masih sekolah ya. “ tanya petugas. “ iya mas” jawaku menimpal. “Tapi alamat yang perempuan, sama alamatnya dengan yang KTP, ini yang Akhmad ini kakaknya ya” kata petugas balik bertanya lagi. Sejenak aku termenung mendengar kata terakhir yang dilontarkan petugas administrasi itu. “ wah, aku nga tau mas. Coba deh aku tanya dulu” jelasku sambil pamit nemuin dulu Akhmad.

Sambil berjalan menuju ruangan, pikiranku mulai curiga tapi belum yakin. Pintu salah satu kamar ruangan UGD tempat Indah terbaring, aku buka. Nampak Indah sedang tertidur lelap tapi Akhmad tidak ada disana. Pikirku Akhmad lagi beli sesuatu keluar sana. Tapi hingga jam menunjukan pukul 21:00, Akhmad belum juga tiba. Aku keluar ruangan rumah sakit. Rencananya mau membeli rokok dikios depan apotek disebrang jalan. Disamping kios ada warung-warung kecil yang menjual berbagai masakan. Mataku tertegun melihat seorang pengamen tengah melantunkan lagunya disebuah warung. Cahaya didalam warung sangat redup sehingga membuat pandanganku tidak terlalu fokus.

” Kutanya malam, dapatkah kau lihatnya perbedaan
yang tak terungkapkan.
tapi mengapa,  kau tak berubah……
Ada Apa denganmu..? .

Begitu mendengar syair lagi itu diulang-ulang, aku mulai kenal dengan suaranya. Usai membayar rokok, aku langsung berjalan dan mendekat ke warung itu. Tak salah lagi, yang kulihat adalah Akhmad tengah menyodorkan bungkus rokok kesetiap orang-orang yang lg makan. Ketika Akhmad berjalan keluar nampaknya dia kaget saat  melihatku yang sudah berdiri didepan warung. “ Maaf mas, aku harus nyari uang untuk biaya rumah sakit “ jelas dia sambil menunduk. Wajahnya kusam dan penuh dengan keringat. Lalu aku tawarkan sebatang rokok. “ nga apa-apa mad. Yu kita masuk aja ke warung itu sekalian kita ngopi bentar” ajaku sambil menarik tangan Akhmad.
Aku memilik tempat duduk dipaling pojok, jauh dari pembeli lainnya sambil memesan dua cangkir kopi panas.

Awalnya aku bingung untuk bertanya langsung. Bingung harus memulainya dari mana. Tapi tak disia-siakan waktunya aku langsung bertanya. “ mad, Indah itu kekasihmu ya.?” Tanyaku. Sejenak Akhmad diam. Kedua matanya berbinar-binar dan berusaha mengalihkan mukanya saat aku memandang matanya. Dibawa matanya sudah mengumpal dan tak lama air matanya menetes sambil mengalihkan lagi mukanya. Kopi panas yang kita pesan mulai datang. “ sambil diminum mad, ayo jangan sungkan” pintaku. Akhmad mulai menyeruput kopi yang sudah siap diminum, kemudian menghisap rokok penuh dengan perasaan. Tak lama Asap rokok yang dihisap pelan-pelan dikeluakan sambil berkata pelan dan terisak. “ iya mas, dia adalah kekasihku juga adik kandungku “ jawab Akhmad sambil mengusap derai air matanyayang megalir. Belum sempat aku nimpal omongannya, akhmad sudah menjelaskan……

—–Bersambung—–     

~ by timuran151 on November 15, 2011.

4 Responses to “Pelarian Pasangan Inses Ditengah Penolakan Keluarga Dan Warga”

  1. Ditunggu lanjuannya ya…. Keep Writing….

  2. walah,,kok bersambung badi??

  3. Apik mas ceritane…

    Ditunggu kelanjutannya dan salam kenal.😀

  4. jos gandos kang budhyy,, mantap tulisannya menyentuh banget ampek pingin nangis,, salam sukses selalu dari udin nganjuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: