Konosuke Matsushita sang maestro management Jepang

Sederetan produk elektronik dari tahun 30-an sampai tahun 70-an  itu sangat tertata rapih dalam sebuah gedung yang berada di Kodomo, Osaka, Jepang. Dari mulai perabotan rumah tangga, Televisi, kamera, radio, Mesin cuci dan lain sebagainnya. Barang-barang elektronik Tua yang hanya menjadi sebuah pajangan itu merupakan  karya yang dihasilkan oleh seorang maestro Management Jepang. Sosok yang sangat di kagumi dan dibanggakan oleh masyarakat jepang ini adalah Konosuke Matsushita, Pemilik sekaligus pendiri perusahaan Panasonic co ltd, Perusahaan Elektronik raksasa yang pemasaran produknya tersebar di 41 negara didunia, dari perabotan rumah tangga dan peralatan kantor serta semua perlengkapan kebutuhan manusia lainnya. Untuk Menghormati dan mengenang Karya dan pemikiran konosuke, Panasonic mendirikan sebuah meseum yang terbuka untuk para wisatawan. berbagai macam produk elektronik dan sejarah penciptaannya menjadi sajian motivasi dan inspirasi bagi para pengunjung yang datang disana.

Budhy Pardiana, Osaka, Jepang-

Kunjungan saya ke meseum ini bertepatan dengan 50 tahun kerja sama PT Transitor Radio Manufacturing, perusahaan yang didirikan H Thayeb Mohammad Gobel dan Matsushita Electric Industrial Co Ltd, perusahaan yang didirikan Konosuke Matsushita. 15 orang pemimpin redaksi media masa Indonesia serta 7 orang kameramen Televisi Nasional diajak mengunjungi markas Panasonic di Osaka dan Tokyo pada bulan Juli 2010.

Kesan pertama kedatangan ke lokasi mesum  Seperti yang di tulis oleh Primus Dorimulu, pemimpin redaksi Investor Daily yang ikut dalam rombongan pada mulanya adalah kata. Bagi Konosuke Matsushita, Kata itu adalah “Sunao”. kata yang ditulis dalam huruf Jepang itu ditempel disalah satu dingding Meseum. unao artinya Keihlasan atau ketulusan. Dalam filosofi Jepang, Sunao itu mencerminkan sikap hidup tanpa prasangka buruk terhadap seseoang atau tehadap sesuatu. Sunao memungkinkan seseorang tidak terbelenggu oleh pemikiran negatif dan terjebak dalam penghakiman.Sunao memungkinkan kerja sama yang langgeng dengan orang lain.

Di perusahaan, karyawan yang memiliki sunao akan bekerja tanpa pamrih.Satu-satunya pamrih adalah melihat perusahaan bertumbuh semakin besar dan tak henti-hentinya memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Mereka yakin, hanya perusahaan yang bertumbuh yang mampu memberikan kesejahteraan kepada para karyawan, dan perusahaan hanya bisa bertumbuh jika diterima oleh masyarakat
Kata Jepang lainnya yang ditekankan Konosuke dan juga terpampang di dinding museum adalah “kokoro” yang artinya hati. Mirip maknanya dengan “sunao”, kokoro menekankan pentingnya menjalani hidup dengan sepenuh hati. Dengan menghayati makna kokoro, setiap karyawan diharapkan bekerja dengan penuh tanggungjawab. Bekerja dengan rasa memiliki yang tinggi. Bekerja tidak sekadar sebagai profesional, tapi juga sebagai entrepreneur yang terus-menerus mencari peluang dan berinovasi untuk kemajuan perusahaan.

“Sunao” dan “kokoro” tidak sekadar diajarkan kepada semua pekerja, melainkan dipraktikkannya dalam kegiatan sehari-hari. Konosuke selalu mendapatkan karyawan yang loyal karena ia sebagai pendiri dan pemimpin pun loyal kepada pekerjanya. Ia tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada para karyawan, pemasok, agen penjual, dan para konsumen. Konsuke pernah berucap, “Pemimpin bertindak sebagai kompas yang memberikan arah, tapi pada saat yang ia juga menjadi penyedia teh bagi para pekerja

Sejarah Matsushita

Sebelum mengitari seluruh tempat didalam meseum, pertama kali kita diajak ke sebuah ruang presentasi untuk menyaksikan tayangan berdurasi 15 menit mengenai sejarah konosuke Matsushita dan bagaimana asal muasalnya perusahaan Panasonic ini bisa berdiri. Konosuke Matsushita lahir pada tanggal 27 November 1894, tepatnya didesa Wasa, Jepang. Anak bungsu dari delapan bersaudara ini tergolong orang yang sangat pendiam, cenderung penutup. konosuke memiliki seorang bapak yang suka pergi berjudi dan menghabiskan banyak uang.  Untuk membantu ekonomi keluarganya , pada usia sembilan tahun ia sudah banting tulang dan bekerja disebuah toko sepeda. Sepertinya ia ditakdirkan untuk hidup dengan penuh perjuangan. Uang hasil keringatnya selalu diberikan kepada ibunya.

Salah satu prinsip yang dipegang Matsushita sepanjang kariernya adalah kemauan untuk mengambil resiko. dia melakukan itu ketika keluar dari pekerjaannya di toko sepeda dan menerima tawaran pekerjaan di Osaka Light, sebuah perusahaan utilitas listrik. Matshusita dikenal sebagai seorang yang gigih dan tekun dalam bekerja. Karena Prestasinya, karier Matshusita cepat naik dan terakhir menjadi seorang inspektur. Di perusahaan itu Matsushita pernah menciptakan jenis baru dari soket lampu yang lebih baik dari produk lain pada saat itu, sehingga membuat bosnya sangat senang.  Meski tidak memiliki uang dan tidak memiliki pengalaman bisnis yang nyata, tetapi dia memiliki daya keatifitas dan keinginan yang kuat. Pada tahun 1917 Matsushita memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan lebih memilih untuk memproduksi perangkat itu sendiri.

Setelah lima belas menit berada di ruang presentasi, akhirnya kita keluar dan memulai menjelajahi seluruh ruangan di museum itu. Tempat yang pertama kali kita datangi adalah sebuah gubuk ukuran 2×2 meter yang merupakan tempat dimana Matsushita memproduksi ciptaannya dengan bantuan seorang wanita yang merupakan istrinya sendiri serta tiga orang asistennya. Dengan bekal pendidikan tingkat lima yang saat itu masih dibawah dari pendidikan sekolah tinggi dan tidak memiliki pengalaman dalam pembuatan steker listrik, di dalam gubuk itu mereka bekerja berjam-jam, tujuh hari dalam seminggu. Setelah berhasil mengumpulkan beberapa contoh produk sehingga membuat badan mereka kurus, saat itulah perusahaan Matsushita Electric Industrial co ltd mulai didirikan.

Awal mula menjalanakan bisinisnya, tidak semudah membalikan telapak tangan. Para pedagang umumnya menolak produk steker tersebut walaupun Matsushita berusaha meyakinkan bahwa itu produk yang inovatif. Matsushita sangat maklum, dia tetap bertahan dan pantang menyerah.  Setelah hampir beberapa bulan produknya dipasarkan, secara bertahap orang mulai membeli stekernya, karena mereka mulai tahu bahwa kualitasnya lebih bagus dan hampir 50 %  harganya lebih rendah dari produk seteker yang lainnya. Matsushita terus memperluas bisnisnya dengan mengambil kontrak untuk produk yang lain, seperti pelat isolator. Pada 1922, perusahaannya memperkenalkan produk baru setiap bulan. Dia juga mengembangkan strategi bisnis yang membuatnya menonjol dari pesaingnya. Dia belajar bahwa produk baru harus lebih baik 30% dan 30% lebih murah dari produk lain yang sama jenisnya.

Masuk kedalam ruangan tengah Meseum yang tertata Rapi, sepertinya konsep ruangan ini sudah disusun berdasarkan historyna. Jadi semua produk yang dipajang tidak seenaknya diletakan begitu saja. semua produk yang dipajang bukan hanya hiasa akan tetapi di runtut bedasarkan sejarah, sehingga kita tau persis perkembangan dari masa ke masa. Setelah melihat steker, isolator kita juga melihat sebuah lampu sepeda kuno tapi nyentrik. kalau diliat usianya pasti lebih tua dari umur kita. Matsushita membuat sebuah terobosan.

Di Jepang, sepeda merupakan transportasi yang sangat umum dipakai oleh masyarakatnya. Matsushita menyadari bahwa dengan membuat produk lampu yang efisien untuk jutaan sepeda di negaranya, akan bisa menjadi sebuah produk yang popluer. ia kemudian merancang satu, namanya ” bullet-lamp” yang juga dipajang dimuseum tersebut. meski tidak langsung sukses, tapi lampu tersebut menjadi standar untuk seluruh industri.  baterai Matsushita’s powered lampu menjadi begitu sukses sehingga banyak orang yang membelinya untuk digunakan di rumah-rumah mereka, untuk mengganti lampu minyak tanah tradisional.

Perusahaan Matsushita Electric sedang dalam perjalanan untuk menjadi Industri raksasa. Tahun 1923 bullet-lamp diikuti oleh produk inovatif lainya yaitu pemanas ruangan elektrik, meja pemanas elektrik, dan tipe baru termostat. Produk pertama radio Matsushita, 3 model tabung vakum, diperkenalkan pada tahun 1931. Hal ini memenangkan hadiah pertama dalam Tokyo Broadcasting Station radio contest. Penemuan lainnya menyusul, termasuk motor listrik dan kipas listrik.
Pada tahun 1930, Perjalanan bisnis Matsushita tidak sepenuhnya berjalan mulus, meskipun lemari es, mesin cuci, AC, televisi berwarna, dan peralatan stereo yang akhirnya akan diproduksi. Namun ada kendala yang menghadang, matsushita melihat penjualannya turun drastis. tapi ia tidak seperti perusahaan lain yang memberhentikan karyawannya agar keuangan perusahaan tidak merugi karena karyawan sudah dianggapnya sebagai bagian dari keluarganya. sebaliknya, ia merubah pola management dan fungsi karyawan yang sebelumnya menjadi bureuh pabrik untuk menempati posisi penjualan. dan pada saat yang sama ia mengurangi proses produksi namun gudang sangat penuh dengan barang dagangan yang tidak laku terjual.

Matsushita tidak akan berubah pikiran ketika manajer bersikeras bahwa perusahaan harus memecat karyawan dan menutup fasilitas agar perusahaan bisa tetap berdiri. Dia memotong setengah jam kerja, tapi tetap membayar penuh upah karyawannya. Ia juga meminta pekerja untuk membantu menjual jaminan simpanan saham. Sebagai perusahaan lain banyak yang bangkrut, namun Matsushita Electric tetap bertahan.

Masa sulit bisnis Matsushita itu terjadi hingga perang dunia kedua datang dan sekaligus membawa kehancuran untuk negaranya. Apalagi saat jepang kalah dan sekutu menguasainya, Matsushita diberikan sanksi dengan pembatasan produksi. Bahkan penguasa militer saat itu memerintahkan untuk menghentikan semua produksi, sejak perusahaannya membantu Jepang dalam upaya perang, tapi perusahaannya tidak memproduski bahan-bahan untuk mesin perang Jepang. Matsushita mulai bepikir bahwa inilah akhir  dari perusahaannya seperti yang dialami oleh perusahaan lainnya di Jepang yang tak pernah bisa bangkit setelah perang. Matsushita sendiri hampir didepan dari kepemimpinan diperusahaan yang dibuatnya sendiri. namun sejak seluruh karyawannya mengajukan petisi kepada pemerintah militer akhirnya dia kembali memimpin.

Dalam Masa sulit itu Matsushita meyakinkan Jenderal Douglas Mac Arthur dan gubernur militer lainnya untuk mendapatkan izin agar perusahaannya melanjutkan produksi, Dia berjanji bahwa jepang akan kembali bangkit dan menjadi kekuatan dunia namun kali ini dengan cara damai. Dipercaya bahwa Negaranya bisa memimpin dunia dalam elektronik, gubernur militer menyadai strategi tersebut dan akan membantu jepang memulihkan dari kehancuran Perang, Perusahaan Matsushita akhirnya diizinkan kembali untuk produksi. Dengan dibantu semangat seluruh karyawannya, Matsushita dan tim manajemennya mulai kembali membangun.

Matsushita Electric terus berkembang, mengakuisisi perusahaan lainnya. Pada tahun 1952, ia menawarkan kepada konsumen televisi pertama hitam putih. Saya bersama rombongan, melihat dengan mata dan kepala saya sendiri. sebuah televisi yang dibuat tahun 50-an yang  dipajang diruangan tengah dalam gedung meseum. serta televisi berwarna pertama yang dibuat oleh Matsushita. Pada tahun 1959, Matsushita telah mendirikan tidak hanya Kyushu Matsushita Electric Company, Osaka Precision Machinery Company (kemudian berganti nama menjadi Matsushita Seiko), dan Matsushita Communication Industrial group (yang memproduksi tape recorder pertama), tetapi juga Matsushita Electric Corporation of America. Perusahaan yang membuat televisi berwarna pertama pada tahun 1960, karena produknya terus menyebar ke seluruh dunia sehingga brand terkenal yaitu “Nasional” dan “Panasonic.

pada tahun 1989, Panasonic harus kehilangan sang maestro management Jepang. tepat pada tanggal 27 April 1989, Konosuke Matsushita meninggal di Tokyo dalam usianya yang ke 94 tahun dengan meninggalkan salah satu kerajaan manufaktur terbesar di Jepang. Sosoknya menjadi sebuah legenda bagi kemajuan teknologi dan elektrik didunia. Selain dibangun Meseum, Matsushita juga membangun sebuah universitas.

Perkembangan Panasonic

Pada Tahun 1998, Pemerintah Jepang Membuat undang-udang mengenai daur ulang peralatan Rumah tangga. dari berbagai macam produk rumah tangga, ada empat yang masuk dalam aturan tersebut. ke empat kategori barang yang harus di daur ulang tersebut adalah AC, Kulkas, Televisi dan mesin cuci. Undang-undang itu mulai diberlakukan 3 setelah itu. Panasonic pun mulai menyiapkan konsep sejak Undang-undang tersebut diperkenalkan tahun 1998. Pada tahun 2001, Panasonic membuka pabrik seluas 38.750 meter persegi disebuah kawasan dekat areal pesawahan di Kato City, Osaka, Jepang, Namanya Panasonic Eco Technology Center (Petec). Kita juga sempat mengunjungi dan melihat langsung proses produksi di Pabrik yang pembangunannya menghabiskan dana sekita 41 trilyun tersebut. Berbagai macam barang-barang elektronik yang rusak didaur ulang . Mereka tidak hanya mendaur ulang sampah elektronik merek panasonic, tetapi mereka juga mendaur ulang merek lain. Dalam setahun mereka bisa mendaur ulang sampah sekitar 600 sampai 800 ribu sampah elektronik. Dalam proses mendaur ulang, mereka menerapkan konsep dari produk menjadi produk. Maksudnya, bahan dari sampah elekronik itu dipilah hingga menjadi partikel, lantas diolah menjadi produk kembali.

Biaya Pengolahan sampah elektronik ini tidak murah. Untuk satu televisi LCD/plasma berukuran 16 inci ke atas, misalnya, mereka mengeluarkan dana 3000 yen atau sekitar Rp 513000dengan asumsi saat itu nilai tukar yen sekitar Rp 171. Biaya paling besar dibebankan untuk kulkas. Lemari pendingin berukuran 171 liter ke atas dikenai tarif sekitar 4900 yen. Dalam aturan Undang-Undang, ongkos itu dibebankan kepada pemilik barang. berbeda dengan di Indonesia, pemilik barang yang menjual barang rongsokannya malah mendapatkan uang dari harga yang dibebankan oleh sipembali.
warga jepang terbilang patuh pada peraturan dan wajib pajak, Meski mereka harus mengeluarkan dana ekstra. keuntungannya mereka tidak  harus repot menggotong sampah elektronik itu. Mereka tinggal menghubungi petugas khusus yang akan datang dan membawa rongsokan tersebut ke tempat daur ulang.

Dalam beberapa tahun terakhir perusahaan Perusahaan panasonic telah terlibat dengan pengembangan standar high-density optical disc dimaksudkan untuk menggantikan DVD dan kartu memori SD. Pada tanggal 19 Januari 2006 Panasonic mengumumkan bahwa, mulai pada bulan Februari, ia akan menghentikan produksi televisi analog (kemudian 30% dari total bisnis TV) untuk berkonsentrasi pada TV digital. Pada November 3, 2008 Panasonic dan Sanyo sedang dalam pembicaraan, sehingga pada akhirnya Panasonic mengakuisisi Sanyo. merger ini selesai pada bulan September 2009, dan menghasilkan satu-perusahaan dengan pendapatan lebih dari ¥ 11.2 triliun (sekitar $ 110 miliar). Sebagai bagian dari perusahaan elektronik Jepang terbesar, merek Sanyo dan sebagian besar karyawan akan dipertahankan sebagai anak perusahaan. Pada tahun 2010, Panasonic berada di peringkat ke-65 daftar Fortune 500 dengan nilai penjualan US$ 79,9 miliar atau Rp 719 triliun pada tahun buku April 2009-Maret 2010. Dua perusahaan Jepang lainnya, Toyota Motor dan Japan Post Holdings, berada pada peringkat kelima dan keenam Fortune 500 dengan nilaipenjualan, masing-masing US$ 204,1 miliar dan US$ 202,2 miliar. Sedangkan perusahaan elektronik asal Korsel, Samsung Electronics, menempati peringkat ke-32 dengan nilai penjualan US$ 108,9 miliar.

Referensi :
http://en.wikipedia.org/wiki/Panasonic_Corporation
http://www.answers.com/topic/konosuke-matsushita
http://www.panasonic.net/history/
http://www.panasonic.net/history/founder/chapter1/story1-04.html
http://info-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-konosuke-matsushita-pendiri.html
catatan : primus dorimulu

~ by timuran151 on October 9, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: