Dimana hati Nurani Indonesia

*** Derita adalah sebuah ide bagi sang maestro dongeng untuk bangkit

 

Sang maestro Dongeng Indonesia

Surabaya,-” Dimana Hati Nurani Indonesia” kalimat itulah yang dijadikan judul oleh ki Heru Cokro, pendongeng Asal Surabaya saat ditinggalkan oleh istrinya  pada tahun 2009 lalu. Kesedihan ditinggalkan oleh istri ini menjadi sebuah ide cerita bagi salah seorang maestro Dongeng di Indonesia ini. Pasalnya, perceraian dengan istrinya ini karena alasan cacat fisik yang diderita oleh ki heru sejak empat belas tahun lalu. Ki Heru memang mengalami cacat fisik pada matanya. dia mengalami kebutaan sejak empat belas tahun lalu karena virus tokso. Tiga tahun lalu menjadi puncak kesedihannya karena ditinggalkan oleh istri dan seorang anaknya yang masih kecil. Walau sekarang sudah tegar tapi awal cerita itu yang membuat saya kagum dengan sosoknya. Dia juga menceritakan alasan istrinya sampai meninggalkan dia dalam kegelapan dan keheningan.

“karena buta mas, mantan istri saya malu mempunyai suami buta. sampe anak saya nga boleh menemui saya. mantan istri sudah mendoktrin anak saya bahwa orang buta itu jahat. itu aja sih mas, sudah tiga tahun saya belum ketemu anak saya ” peluh ki heru saat menceritakan kisahnya.  Dari kejadian ini, ki Heru mengaku sedih, tapi dia menerima takdir dan nasibnya dengan pasrah pada yang maha kuasa. Terlalu lama larut dalam kesedihan membuat ki Heru tak berdaya, namun dia tidak menyerah. Ki Heru langsung bangkit dan kejadian yang dialaminya ia jadikan sebuah ide cerita untuk mendongeng disebuah acara yang dihadiri ratusan peserta baik itu guru, pejabat dan para tuna netra. ” semua menangis mas, waktu itu saya buat judul ” dimana hati Nurani Indonesia. sebenernya judul ini terlalu luas, tapi saya ambil simpelnya bahwa semua orang masih kurang peduli terhadap orang buta.  ” Tegas Heru..

Sebenarnya, bukan dari kejadian itu ki Heru memulai menjadi tukang dongeng. sebelum mengalami kebutaan, dia sudah menjadi penulis dan aktif diberbagai organisasi sosial. Sarjana Hukum lulusan Universitas 17 Agustus Surabaya pada tahun 1995  ini mengawali kariernya sebagai anggota teather di yayasan Janur Kuning di Jakarta, Milik Bambang triatmojo, salah satu putra almarhum mantan Presiden Soeharto. Kemudian dia menikah pada tahun 1997 dengan mantan istrinya.  sejak mengalami masalah pada matanya, aktivitasnya mulai menurun. dia kemudian menulis berbagai makalah dan artikel walau pandangannya sudah mulai kabur.  tapi sejak matanya sudah tidak bisa melihat, segala aktivitas penulisannya terpaksa dihentikan. ” kalau dulu kan ada istri sebagai mediator. kalau saya punya ispirasi untuk menulis, istri yang mengaplikasikannya. kalau sekarang siapa mas.” ujar Heru.

Sejak ditinggal istri dan anak, Ki heru tinggal berdua bersama ibunya. Namun, pada tahun 2008 lalu, ki Heru terpaksa harus mengulang kesedihannya. Seperti sebuah ungkapan, sudah jatuh tertimpa tangga. sudah perih ditinggal istri kemudian sedih ditinggal mati oleh Ibunya yang notabene tumpuan hidup satu-satunya. Kesedihan yang tiada ukurannya itu membuat ia frustasi. tapi kembali sebuah ide muncul ketika dia harus menjadi pendongeng dalam acara buka puasa bersama dengan ribuan anak yatim dan dihadapan Gus Ipul (wakil Gubernur Jawa Timur-red). ” semua tertawa, bahkan setelah itu se isi gedung menangis karena  pusisi dan dongeng saya tentang kehilangan orang yang saya cintai.” tutur Heru.

Larut dalam kesedihan bukan tipikal ki Heru Cokro. Untuk bertahan hidup segala ide dan konsep dia curahkan melalui kata-kata. Kini aktivitasnya hanya menjadi pendongeng panggilan. Dia juga mengajar ilmu dongeng buat para guru TK dan guru SD di Surabaya. Selain itu dia juga aktif dalam menyurakan hak-hak penderita tuna netra. Dia juga ingin menunjukan kepada semua orang terutama mengubah pandangan bahwa orang buta tidak hanya terpaku pada pekerjaan sebagai tukang pijit atau lain sebagainya. kali ini dia sering mengumpulkan para tuna netra dan mengajarkan ilmu mendongeng buat anak, dewasa ataupun orang tua. aktivitasnya untuk para tuna netra ini rutin dilakukan untuk pembekalan bagi para penderita agar bisa mendapatkan penghasilan selain dari menjadi tukang pijit.Itulah sepenggal kisah Ki Heru Cokro sang Maestro dongeng indonesia saat kita temui di rumahnya di Pucang Anom I no 56, Surabaya (4/09/2011).

Bagi dia Dongeng adalah dunianya, ide adalah modal, kata-kata adalah sumber penghasilan.

~ by timuran151 on October 5, 2011.

4 Responses to “Dimana hati Nurani Indonesia”

  1. inspiring story…penulisnya nemu aja nih😀 . btw penulisnya pasti dari sunda yak…ane nemuin ” ia prustasi” & “bukan tifikal” yg khas dari jawabarat hahahay….

  2. I’ve been surfing online more than 3 hours today, yet I never found any interesting article like yours.
    It’s pretty worth enough for me. In my opinion, if all website owners and bloggers made good
    content as you did, the net will be much more useful than ever before.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: