Pesona Bromo Tidak Pernah Memudar

*** Timelapse tanpa rencana

Menikmati secangkir kopi sambil bercengkrama serta merasakan dinginnya pegunungan Bromo, mengingatkan hobi saya 15 tahun yang lalu. ngobrol sambil bercerita pengalaman-pengalaman yang lucu tentunya sangat menyenangkan. Memang saat itu saya masih suka naik gunung. Beberapa gunung berapi di Indonesia apalagi di pulau jawa pernah saya daki, bahkan kedua kaki saya ini pun pernah menapakan kakinya di atap pulau Bali dan Nusa Tenggara Barat.  Tapi itu dulu, hanya sekedar hobi disaat libur sekolah. kali ini, memang kedatangan saya ke gunung Bromo Sebenarnya bukan acara pendakian, acara dadakan sekedar hiburan melepas lelah dari rutinitas pekerjaan di kantor. Ceritanya sih hunting sunrise dan mencoba timelapse dengan kamera baru yaitu AVC CAM Panasonic 152 milik kantor.

Kedatangan ke Gn Bromo ini merupakan yang kedua kalinya. hanya berbeda, jika yang pertama pada tahun 1997 mengunakan jalur Tumpang ,  kali ini saya mengunakan jalur Tosari. Ber-enam kami tiba di kampung Tosari sekitar pukul 3 dini hari. Disebuah warung paling pojok tepatnya dibelakang Pos gerbang masuk, kita istirahat sejenak sambil menikmati mie rebus panas dan secangkir kopi diselingi canda tawa. Suasana inilah yang mengingatkanku dimasa lalu. keramahan warga setempat membuat kami nyaman bekunjung ke daerah ini. Beberapa warga  yang berjualan perlengkapan pengamanan dicuaca dingin sempat menawari kami, seperti kaos tangan, slayer dan kain penutup kepala. Mungkin para pedagang ini tau dan pantas menawari dagangannya karena mereka menyaksikan sendiri bahwa perlengkapan yang digunakan dan melekat dibadan kami bukan perlengkapan umumnya untuk pendakian. harganya lumayan cukup murah sih apalagi barang yang mereka jual sangat berguna untuk menahan cuaca dingin Gn bromo dipagi hari.

Setelah selesai ngobrol dan makan, sekitar pukul 4 pagi kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan. dengan mengunakan jepp hartop carteran yang dibayar 275 ribu, kita berangkat menuju kawasan puncak patukangan. jaraknya sih engga terlalu jauh, paling jika ditarik lurus hanya berjarak sekitar 4 km. tapi setelah 10 menit melewati jalur yang hanya cukup dilalui satu kendaraan kami tiba ditempat parkir. disana sudah banyak jepp hatop lain yang juga terparkir dan hanya dijaga oleh para sopirnya, sementara para penumpangnya sudah berada dipuncak. begitu juga kami yang tidak mau menunggu lama dan langsung menuju puncak patukangan. Beberapa tukang ojeg menawari kami untuk mengantarkan sampai kepuncak dengan bayaran 10 ribu rupiah. tapi kami memutuskan untuk tetap berjalan, karena selain jaraknya dekat juga untuk menghangatkan tubuh dicuaca dingin.

dipuncak patukangan, sudah ada seratusan orang yang juga menunggu moment matahari menampakan wujudnya ke bumi. disana kami mencari tempat untuk blocking kamera yang siap merecord semua aktivitas. John Asmuruf Salah seorang Camera Person Sakti TV yang ikut dalam tim ini langsung mengingatkan saya untuk memasang iris di atas 5,6 mm dan menaikan gain agar change focus saat matahari muncul dibalik bukit bisa menyesuaikan dengan cahaya. Sementara  teman saya Wienanto Nugroho mengambil blocking yang berbeda. Begitu Juga Bang leon, Mba Tracy dan kang Asep. meski terpisah namun jaraknya tidak terlalu jauh. sekitar pukul 04.45. cahaya merah kekuning-kuningan sudah muncul diarah Barat. kamera masih dalam posisi record, kami pun sempat mengabadikan moment ini dengan mengunakan kamera foto. Jujur saja.. selama hampir bertahun-tahun saya tidak pernah lagi menyaksikan pemandangan yang luar biasa indah ini, apalagi melihat kemilau warna alami tanpa polesan teknologi dan Inilah salah satu keagungan yang maha kuasa. padahal jarak Matahari dengan Bumi ini bisa berjuta-juta kilometer itupun di itung jarak dengan kecepatan cahaya. Melihat seperti ini Kita merasa sangat kecil. Manusia hanya salah satu mahluk ciptaannya dari milyaran bahkan triliunan benda dan mahluk yang yang ada dilangit dan bumi yang diciptakannya.  apalagi setelah lewat pukul 5, dimana cahaya kuning terang muncul diatas bukit yang sangat jauh. itu pertanda bahwa matahari muncul. hanya sayang, terpesona melihat proses tersebut sampai kita lupa menaikan filter. sehingga proses yang singkat itu menghasilkan gambar tidak maksimal. maklum situasi yang tidak terencana tapi karena tujuan kita hanya mengambil timelapse saya dan John tidak merubah Framing dengan four ground dua tangkai pohon cantigi. hanya saja visual matahari yang keluar tidak nampak sempuna sehingga di LCD camera kelihatan seperti bintang. sebenarnya bisa saja matahari itu seperti bentuk aslinya, kita tinggal merubah framing gamba menjadi medium atau close up.  namun karena tujuan kita tidak merubah framing jadi kita biarkan hingga matahari naik diatas bukit.

Tapi ada satu masalah besar, batre camera foto yang saya bawa ternyata habis. padahal masih banyak moment yang bisa diabadikan. kalau saja ada yang jualan, saya nga akan mikir-mikir lagi. pasti saya beli berapapun harganya hehehe….. apalagi yang lebih menyesal setelah melihat ke arah timur saya, dimana hamparan awan putih berada dibawah kaldera pegunungan bromo dengan background Gn Semeru yang merupakan gunung tertinggi dipulau jawa dengan ketinggian sekitar 3676 DPL (diatas permukaan laut).  puncak mahameru terlihat sangat jelas. beberapa menit saya melamun melihat pemandangan yang nampak seperti lukisan ini. disana kita tidak begitu lama, karena masih ada lokasi lain yang harus dituju yaitu turun kebawah sampai ke Pura tepat dibawah Gn batok dan disampingnya kawah Gn Bromo yang bulan November lalu erupsi yang ke sekian kalinya.

untuk menuju sampai kebawah, kami harus berjalan menghampiri jepp yang tadi kami tumpangi. dan perjalanan kami lanjutkan dengan berbalik arah melewati pos Tosari lagi dan mengambil jalur kiri yang menuju lautan pasir. namun bedanya kali ini cuaca dingin yang tadi subuh kita rasakan, sedikit-sedikit mulai hilang. cuaca mulai berubah drastis. teriknya mentari pagi sangat menyengat meski berada diarea pegunungan. sebelum sampai ditempat yang kami tuju, dipetengahan jalan sudah banyak warga suka tengger yang menunggang kuda mengejar jepp yang kami tumpangi. hanya 10 menit saja kami sampai dilokasi yang dituju. Begitu pintu saya buka, mereka sudah menawarkan jasanya untuk mengantarkan kita sampai dikawah Bromo atau di Pura Luhur Poten Gn Bromo.  Tapi tak satupun dari Tim yang menunggang kuda. kita hanya berjalan dilautan pasir sambil menikmati teriknya matahari yang mulai menyengat.

Didepan Pura Luhur poten saya sempat berpikir, kenapa Pura ini dibangun dilautan pasir dikawasan Gn Bromo yang jauh dari pemukiman penduduk. Ngomong-ngomong soal history Pura ini, Dalam sebuah mitos Roro Anteng dan Joko Seger Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib :”Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara yang disebut upacara Kasada di Pura Luhur Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Pura ini sangat megah, Konon Di pura tersebut terdapat sebuah padmasana yang dibangun di bawah goa. Di sana ada keajaiban yang bisa disaksikan mata, yakni air mengalir di bibir goa seperti siraman hujan dari angkasa. Warga setempat meyakini lokasi tersebut sebagai permandian bidadari. namun sayang, karena waktu saya tidak bisa menyempat masuk kedalamnya. cerita itupun saya denger dari seorang warga tengger yang menawarkan saya untuk mengantarkan ke pura dengan menungang kuda. Mas Wien dan John sempat mengambil beberapa stock gambar Pura baik dari luar maupun bagian dalam, sementara kang Asep melanjutkan perjalanannya menuju kawah bromo. sekitar pukul 8 pagi kita kembali berkumpul ditempat parkiran Jepp, karena cuaca mulai panas ditambah debu pasir yang terbawa angin akhirnya kita kembali pulang. disela perjalanan menuju Pos Tosari saya sempat melihat angin kencang yang membawa pasir dan itulah yang dinamai Pasir Berbisik setelah dikasih tahu oleh supir Jepp yang kami tumpangi. sesampainya dipakiran, tak lami kami langsung melanjutkan perjalanan pulang menuju Surabaya.

Foto : John Asmuruf, Budhy Padiana, Pura : Flickr

~ by timuran151 on October 4, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: