Detik-Detik Kematian Amrozi Cs

Detik-detik terakhir kematian Trio Bom Bali

Menjemukan, itulah suasana yang kami rasakan ketika menunggu  eksekusi  trio bom bali 1. Pasti anda tau, siapa ketiga terpidana mati tersebut yang bukan lain adalah Amrozi, Imam Samudra dan Muchlas.  Mereka dihukum mati karena dianggap sebagai pelaku bom kuta Bali pada tahun 2001 lalu yang menewaskan ratusan wisatawan asing.  Kabar ketiga terpidana mati itu dinanti-nanti oleh jutaan pemirsa.  Bagimana tidak membosankan, selama dua minggu kita menunggu ketiganya di ekskusi. Tapi kita bukan menginginkan ketiga terpidana itu segera mati, melainkan cerita direntan waktu yang tidak pasti.  Moment liputan ini menjadi pengalaman yang berharga dan tak terlupakan dalam tugasku sebagai jurnalis.

*** Budhy Pardiana, Cilacap—

Nama Amroji, Imam Samudra dan Muchlas memang sudah terkenal dari sejak peristiwa pada saat peledakan, perburuan polisi terhadap para pelaku, Penangkapan para pelaku dan pengakuan-pengakuan mereka dipersidangan bahkan sampai eksekusi ketiganyapun tak luput dari perhatian Media dan jutaan pemirsa di seluruh dunia.  Wajar sih, mereka dicap sebagai Teroris oleh Negara.  Kala itu memang pamor mereka mengalahkan artis papan atas di Indonesia. Semua orang ingin mengetahui kabar terkini dari ketiga orang  yang dianggap islam garis keras di Indonesia. 

Dua minggu menjelang eksekusi,  tepatnya sekitar akhir oktober tahun 2008,  Dermaga Wijaya Pura yang merupakan tempat penyebrangan menuju Lembaga Pemasyarakan di pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, mulai banyak didatangi oleh puluhan wartawan dari berbagai media cetak lokal, nasional dan Media televisi  serta Radio baik itu lokal, nasional maupun asing. Termasuk saya yang juga ikut dalam tim Live News Trans tv yang dikirim untuk peliputan eksekusi trio bom bali 1. Ngomong-Ngomong rencana eksekusi ketiganya,  tidak ada satupun media yang mengetahui kapan dan dimana mereka akan diakhiri hidupnya, Sekalipun regu tembak yang ditugaskan untuk melakukan eksekusi,  hanya menunggu perintah dari pemberi wewenang yang saat itu pemegang kendalinya adalah kejaksaan agung.

Di kawasan dermaga ,setiap hari kami mencari informasi dengan wartawan lainnya. Dari pagi, siang dan malam bahkan sampai pagi lagi kami tetap menjaga kawasan itu. Siapapun yang datang tak luput dari perhatian kami.  Masing-masing media memiliki peran masing-masing.  Yang paling menonjol waktu itu adalah dua stasion televisi  berita   yang head to head berkompetisi menyajikan update berita terkini, baik itu rencana eksekusi bahkan gambar kondisi ketiga terpidana mati di lembaga pemsyarakatan batu (tempat ketiga terpidana di tahan-red) yang  sama sekali susah ditembus oleh orang luar apalagi media, menjadi informasi yang ditunggu-tunggu. Berbagai cara dihalalkan oleh keduanya untuk menarik perhatian pemirsanya agar tetap berada disaluran mereka. Memang harus diakui kedua stasion televisi itu yang hampir tiap setengah jam sekali melaporkan situasi terkini mengenai kondisi yang terjadi dikawasan dermaga atau terkait dengan rencana eksekusi.  Tapi kita yang bukan televisi berita juga berlomba-lomba menyajikan informasi yang valid. Untuk mendapatkan informasi itu tentu saja tidak semudah membalikan telapak tangan. Berbagai cara kita tempuh, tapi tetap pada koridor yang benar  sesuai dengan prinsip dan kode etik jurnalistik. Dari menjalin hubungan dengan berbagai intelegen baik itu Badan intelegen Abri (BIA), Badan Intelegen Nasional (BIN) dan beberapa orang dari petugas Lapas dan Polisi Militer.

Informasi dengan mereka merupakan sebuah aset. Walaupun tidak semuanya akurat akan tetapi informasi itu sangat penting bagi kami terutama unuk menentukan strategi penyajian berita kita, sampai ketiga terpidana benar-benar sudah di eksekusi. Sekali lagi, karena kita tidak tahu kapan pelaksanaan eksekusi itu akan dilaksanakan.  Kami tetap pada komitmen yaitu tidak membohongi pemirsa dan tidak  asal menebak serta sok tau mengenai kapan waktu eksekusi. Kita tidak seperti itu..!!! Yang kita sajikan adalah informasi akurat mengenai situasi terkini serta perkembangan-perkembangan lainnya berdasarkan pantuan kami dilapangan.

Setiap hari kita membagi tim liputan dalam beberapa ship. Yang paling banyak adalah tim pagi, sementara ship malam hanya dua tim yang diturunkan. Semuanya saling bergantian, namun perkembangan terkini tetap fokus di dermaga wijaya pura. Tempat itu menjadi barometer semua media untuk memantau situasi.  Mobil SNG (satelite News Gathering) kita memang diluar area dermaga wijaya pura, saat itu kita hanya mendapatkan tempat di dermaga satu lagi yang tak jauh dari wijaya pura. Jika ditarik lurus hanya berjarak 200 meter. Di Tempat itu kita live baik pagi, siang, Sore maupun malam.

Sepuluh hari menjelang eksekusi, tepatnya tanggal 30 oktober 2008, pihak Polri mengirim 5 kompi pasukan tambahan dari brimob Polda Jateng untuk pengamanan menjelang ekseskusi. Kedatangan mereka yang diam-diam menjadi informasi yang penting bagi kami untuk update berita. Waktu itu kami sempat berpikir, bahwa sepuluh orang dari pasukan tersebut terdapat regu tembak yang ditugaskan menjadi eksekutor terpidana. Namun tidak ada satupun pihak yang berwenang yang bisa memberikan keterangan kepada media untuk meyakinkan isu tersebut. Tapi salah satu televisi berita nasional sudah meyakinkan kedatangan pasukan tambahan tadi merupakan bukti bahwa waktu eksekusi tinggal hitungan jam.

Bahkan dengan yakinnya, televisi tersebut menampilkan sebuah gambar hutan dipulau Nusakambangan yang diyakini bakal menjadi tempat eksekusi ketiga terpidana Bakal diakhiri hidupnya. Padahal pihak kejaksanaan baru saja memberikan informasi mengenai rencana-rencana tempat eksekusi yang salah satunya bisa diambil diluar pulau Nusakambangan. Kedua televisi tersebut begitu yakin Bahkan mereka tak tanggung-tanggung menganggap gambar tersebut dengan mencantumkan tayangan ekslusif.  Apalagi  Ditambah keterangan si reporter yang menyebutkan bahwa gambar yang ditayangankan di layar televisinya  baru diambil tadi pagi oleh tim liputan mereka.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pulau Nusakambangan pada kondisi saat itu sama sekali susah ditembus. Penjagaan super ketat diberlakukan, semua penduduk asli warga pulau nusakambangn sudah di ekstradisi keluar pulau untuk kepentingan keamanan. Jadi pulau yang dihuni oleh ribuan narapidana tersebut hanya dihuni oleh petugas dari menhumkam serta ratusan pasukan Brimob dan Detasemen khusus 88 .

Dalam persaingan penyajian pemberitaan,  memang mendapatkan informasi tercepat diharapkan oleh media dan tentunya informasi ini untuk disajikan kepada pemirsa. Namun jika informasi tersebut tidak akurat, Jelas media dianggap berbohong dan mengada-ngada. Bukan tak mungkin masa menuduh media yang seolah-olah berperan dan tau persis tentang waktu eksekusi, padahal kenyataannya Nol.  Pada prinsipnya media hanya memberitakan sesuai pantauan tim liputannya, bukan menduga-duga atau merekayasa sebuah informasi menjadi sesuatu yang sangat penting.

Karena kita tidak memiliki bukti dan keterangan yang bisa dipercaya dari sumbernya, akhirnya saya bersama produser waktu itu sepakat bahwa Trans Tv hanya akan memberitakan update mengenai Penambahkan pasukanPolri  menjelang ekseskusi ketiga terpidana mati.  Kita tidak mau dianggap sebagai media pembawa kebohongan.  Sejujurnya, memang dalam kondisi seperti itu naluri dan cara berpikir kita sangat diperlukan. Informasi-informasi yang kita dapatkan dari beberapa intelegent mengenai situasi yang sedang terjadi itu sangat diharapkan.  Tapi bukan mutlak sebuah informasi yang bisa diyakini kebenarannya, karena satu-satunya pemegang kendali adalah kejaksaan agung dan pihak Mabes Polri.

Trans tv memang bukan sebuah televisi berita.  Tidak seperti televisi berita yang ada di indonesia seprti TV One dan metro Tv,  atau kalau diluar Negri  ada CNN, AL jazzera dan BBC yang gencar memberikan update kepada pemirsanya baik itu siaran langsung maupun running teks . tapi Trans tv lebih banyak menayangkan berita soft News, life stye dan hiburan.  Dalam moment bersejarah inipun Trans tv lebih banyak menanyangkan berita pinggiran. Berita-berita tentang ekses dari kegiatan eksekusi atau dikenal dengan Side Bar.  Berita pinggiran yang berhubungan dengan berita utamanya, seperti dampaknya terhadap warga yang dilarang beraktivitas disekitar perairan Nusakambangan, serta berita hiburan lain yang berhubungan dengan rencana eksekusi, seperti lokasi wijaya pura yang dijadikan tempat wisata dadakan menjelang eksekusi oleh ribuan warga yang penasaran ingin mengetahui situasi dilokasi dan lain sebagainya.

Tapi sejujurnya, kita tidak pernah minder. Memang di sebuah peristiwa penting , dalam moment seperti ini pemirsa lebih banyak update situasi atau kondisi dengan melihat tv berita. Tv diluar itu hanya selingan disaat iklan. Tapi Jika melihat hasil Share dan Rating mingguan Ac Nelsen, ternyata Trans tv tetap mendapatkan perhatian dari pemirsanya. Setiap live eksekusi di cilacap, share  kita memang lumayan tinggi dengan angka 19 % sampai 25 %.  Perolehan angka yang fantastis disaat semua mata dan telinga hanya terfokus pada sebuah station.

Bersambung>>>>

~ by timuran151 on September 23, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: