Taosisme

TAOISME

A. Latar belakang munculnya Taoisme
Menurut tradisi, taoisme berasal dari seorang ahli pikir tiongkok yang terkenal dengan nama “Lao tzu” (guru tua) yang diperkirakan lahir pada tahun 600 SM dan ada yang mengatakan ia lahir pada tahun 640 SM. Beberapa sarjana menyatakan bahwa beliau hidup tiga abad kemudian dari tahun tersebut, sedangkan dari sarjana lainnya lagi bersikap ragu-ragu apakah beliau ini pernah benar-benar ada. Menurut dugaan, Lao tzu hidup 50 tahun lebih dahulu dari pada Kun Fu Tse. Karena tahun kelahiran Kun Fu Tse diperkirakan pada 551 SM. Mengenai orang tuanya, masa kanak-kanak serta pendidikannya tidak banyak diketahui orang sebab tidak pernah ditulis dalam buku sejarah. Akan tetapi setelah ajaran-ajarannya yang berhubungan dengan mistik mulai dikenal oleh para ahli pengetahuan dan ahli filsafat di seluruh Tiongkok dalam masa-masa kemudian, maka baru timbul legenda tentang kehidupannya meskipun legenda tersebut tetap masih berupa teka-teki.
Lao tze dengan tekunnya mempelajari buku-buku kuno dan kemudian membentuk pendapatnya sendiri tentang agama dan filsafat yang pada masa kemudian sangat menarik perhatian orang-orang yang mempelajarinya. Ketika berumur 90 tahun dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai arsip kerajaan untuk kemudian melakukan pengembaraan ke seluruh negara guna menghindari tindakan raja yang ia anggap kejam atau dholim. Dia membeli sebuah kereta kecil yang ditarik oleh seekor sapi htam dan dengan keretanya itu ia menuju ke daerah Chu, akan tetapi ketika melintasi perbatasan, seorang penjaga perbatasan mengenalnya, penjaga perbatasan tersebut barnama Yin Hse menegurnya : “Tuan selalu menyukai hidup sebagai seorang pertapa, akan tetapi tuan tidak pernah menulis ajaran-ajaran tuan sekarang tuan ingin meninggalkan daerah ini, pelajaran tuan akan dilupakan orang maka dan itu saya tak akan mengijinkan tuan untuk menyeberang sehingga tuan menulis pokok-pokok ajaran tuan”.
Untuk memenuhi permintaan itu Lao Tse tertahan diperbatasan tersebut untuk menulis ajarannya dalam 5000 kata-kata yang terbagi 81 syair pendek, yang kemudian syair-syair tesebut disebut : “Tao Te King”. Lao Tse kemudian menyerahkan tulisannya kepada Yin Hse dengan menyatakan bahwa inilah yang harus saya ajarkan, sekarang izinkanlah saya meninggalkan tempat ini. Buku Tao Te King merupakan suatu kesaksian dari keserasian manusia dengan alam semesta ini, dapat dibaca hingga selesai dalam waktu setengah jam ataupun sepanjang hidup dan sampai hari ini merupakan teks dasar bagi keseluruhan pemikiran Tao.
Setelah kejadian tersebut baik La Tse maupun Yin Hse tidak muncul-muncul lagi seolah-olah mereka tak pernah hidup, akan tetapi bukunya “Tao Te King” tetap dipelajari orang. Menurut dugaan beberapa ahli sejarah, Lao Tse pernah ditemui oleh Kun Fu Tse dan mengadakan perdebatan tentang ajaran-ajarannya yang sanga antusias baginya. Menurut pendapat Prof James Legge dalam muqoddimah terjemahan buku “Tao Te King”, kedua orang tersebut (Kun Fu Tse dan Lao Tse) nampaknya bertemu lebih dari satu kali dan cenderung untuk menduga bahwa nama “Lao Tse” adalah timbul dari style bahasa Kun fu Tse supaya dikenal oleh pengikut-pengikutnya sebagai “guru tua”. Mereka adalah ahli pikir timur yang bertemu muka dengan pandangan pikiran yang berbeda, akan tetapi mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang perbedaan pandangan itu. Kettka Kun Fu Tse masih muda setelah mendapat kabar bahwa ada seorang ahli pikir tua yang bekerja sebagai pegawai administrasi diperpustakaan kerajaan, terkenal dengan nama “Lao Tse” maka ia memutuskan untuk menemuinya.
Menurut pernyataan Kun Fu Tse sendiri yang disampaikan kepada murid-muridnya tentang pertemuan dengan Lao Tse itu adalah menunjukkan bahwa pertemuan antara keduanya menimbulkan kemarahan atau pertentangan, oleh karena Kun fu Tse telah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan berat untuk memancing jawaban-jawaban dari Lao Tse sehubungan dengan ajaran-ajarannya. Dialog antara keduanya antara lain adalah sebagai berikut : Lao Tse terlebih dahulu bertanya kepadanya tentang hal-hal yang menarik perhatiannya, maka Kun Fu Tse menjawab bahwa yang menarik perhatian dirinya ialah sejarah nenek moyang, terutama yang tertulis dalarn kitab “Shu K’ing” (riwayat). Tetapi Lao Tse menyela : “bahwa orang-orang yang kamu percakapkan itu telah lama meninggal dan tulang-tulangnya telah menjadi abu didalam kuburan”. Kun Fu Tse mengatakan bahwa : Manusia itu menurut watak aslinya adalah baik dan pengetahuannya dapat menjaganya untuk selalu baik”

. Kemudian setelah mendengar uraian. Kun Fu Tse, demikian bertanyalah Lao Tse : “tetapi mengapa kamu mempelajari orang-orang kuno (nenek moyang)”. Dijawab oleh Kun : “pengetahuan yang baru harus berdasarkan pengetahuan kuno (lama)”. Belum selesai menerangkan, Lao Tse menganggunya dengan pertanyaan sebagai berikut : “Buanglah sikap ramah tamahmu dan lemparkanlah jubahmu yang indah itu. Orang yang bijaksana tidaklah memamerkan kekayaannya kepada mereka yang tidak tau dan ia tidak akan dapat mempelajari keadilan dan orang-orang kuno”. Mengapa tidak? Tanya Kun Fu Tse selanjutnya “bukannya dengan memandikan maka seekor burung dara itu menjadi putih” jawab Lao Tse. Setelah Kun Fu Tse berfikir sejenak maka berkatalah ia : “Saya tau bagaimana burung terbang, bagaimana ikan berenang, bagaimana. binatang lari, dan bagaimana yang lari itu bisa, juga tertangkap ikan yang berenang itu bisa juga terkail, burung terbang bisa juga tertembak. Tetapi ada ular naga yang besar dan saya tidak dapat menceritakan bagaimana, ia menaiki angin dan dapat mengendarai awan”. “Saya telah bertemu dan berbicara dengan Lao Tse dan hanya dapat membandingkan dia dengan ular naga itu”. Lalu ia tidak berkata apapun lagi kepadanya dan berlalulah ia.
Demikianlah salah satu contoh dialog antara dua orang filsuf tersebut, yang ajaran-ajarannya dikemudian hari besar pengaruhnya terhadap kebudayaan bangsa Tiongkok, bahkan terhadap way of life bangsa tersebut sampai sekarang, meskipun bangsa tersebut berada dibawah bayang-bayang hitam dan pemerintahan komunis yang menginginkan hancurnya segala bentuk keagamaan serta tradisi nenek moyangnya.

B. Pokok-pokok ajaran Taoisme.
Ajaran-ajaran Taoisme tercantum dalam kitabnya yang terkenal dengan nama “Tao Te’ King” yang terdiri dari 25 halaman yang kemudian diberi komentar oleh pelbagai ahli filsafat sehingga menjadi kitab yang sangat tebal. Kitab tersebut menyimpan suatu pengertian yang ajaib (misterius) yaitu yang tersirat dalam kata “TAO”. Kata ini menyulitkan banyak sarjana untuk mengartikannya. Ada yang mengartikan “TAO” dengan. “ Jalan” atau “Cara” atau “Akal” dan “Keutamaan” bahkan ada juga yang memberi arti sebagai “Kata-kata suci” dan sebagainya. Ajaran Taoisme cenderung membawa tradisi Tiongkok kuno ke dalam bentuk keagamaan dan filsafat. Dengan demikian berarti Lao Tse menjadikan Taoisme suatu faham yang dapat mengimbangi faham Konfusianisme yang terkenal dengan faham kuno dan yang berusaha mempertahankan tradisi Tiongkok dalam bentuk baru tetapi berada pada jalan yang sama dengan yang dilalui Taoisme.
Taoisme merupakan ajaran falsafah yang bercorak ketimuran terlihat dalam ajaran tersebut pandangan hidup yang lebih menitik beratkan kepada moral individual dan sosial, sebab ternyata didalam ajaran tersebut terdapat pandangan prinsipil bahwa manusia harus berbuat sesuai dengan sifat atau watak-watak yang dimiliki berikut : “Tao adalah sesuatu yang maha halus dan bilamana sesuatu itu dapat ditangkap pengertiannya maka ia bukanlah Tao yang sebenar-benarnya”. Sesuai dengan sifat atau watak-watak yang dimiliki oleh Tao yang digambarkan didalam muqoddimah Tao Te’ King sebagai berikut “Tao adalah sesuatu yang maha halus dan bilamana sesuatu itu dapat ditangkap pengertiannya, maka ia adalah bukan Tao yang sebenar-benarnya”. “Karena sifatnya transendental, maka Tao merupakan dasar segala yang ada”. Nyanyian suci yang tertulis dalam kitab Tao Te’ King antara lain memuja Tao sebagai hal yang paling gaib; kegaiban dari segala yang gaib, yang merupakan tempat masuk kedalam kegaiban dari semua kehidupan.
Dengan gambaran sifat-sifat Tao yang demikian rumitnya itu maka manusia hanya akan dapat menagkapnya melalui semedi (tafakur) atau pandangan dalam, sehingga ia tak dapat diuraikan dalam untaian dan lukisan kata-kata. Untuk lebih memudahkan memahami pengertian sifat-sifat Tao maka Tao diberi sifat sebagai berikut :
a) Tao bersifat Transendent juga ia bersifat Immanent artinya benda dalam alam kita.
b) Tao diartikan sebagai “Jalannya Universum” (jagad raya) yakni merupakan norma-norma, irama dan kekuatan pengatur alam ini. Oleh karena itu Tao, dengan pengertian ini dapat disamakan dengan “elan vitale” (kekutan dasar) dunia. Alam raya (universum) harus mengikuti jalannya yang telah ditetapkan supaya mendapatkan keseimbangan dan kestabilan.
c) Tao berarti sebagai suatu cara dengan mana orang harus mengatur hidupnya agar sejalan dengan yang diperbuatnya oleh alam (universum).
Konsep Taoisme tentang hidup manusia yang paling baik adalah sikap hidup yang tinggi nilainya yaitu sikap diam yang kreatif atau disebut “Wuwei”. Sikap demikian dapat menarik kedalam pribadi orang suatu kekuatan kejiwaan tertinggi berupa “aktivitas tertinggi” dan “kebebasan tertinggi”. Dengan sikap inilah manusia akan dapat menciptakan suatu kreasi (ciptaan) murni, sebab kreasi yang murni hanyalah timbul dari pribadi yang bebas dari segala bentuk tekanan. Sedangkan gerak dan tingkah laku yang goyah hanya akan menghasilkan suatu kreasi yang tidak murni dan kreasi demikian tidak dapat dipergunakan untuk mencapai kesadaran hati nurani manusia. Hanya dengan Wuwei manusia dapat mencapainya. Untuk tujuan itu Taoiesme menganjurkan agar supaya jiwa kita dibebaskan dari segala tekanan sehingga dengan demikian manusia akan dapat memperoleh ketengan dalam hati nuraninya sendiri. Oleh karena itulah “WUWEI” dapat dipandang sebagai unsur kehidupan yang berada diatas segala tekanan.
Ajaran Taoisme lainnya adalah konsepsinya mengenai kenisbian semua nilai dan sebagai imbalan dari asas ini adalah adanya persamaan dari hal yang bertentangan. Dalam hal ini Taoisme berkaitan dengan simbolisme Cina tradisional tentang yang dan yin yang digambarkan sebagai berikut :

Kutub-kutub ini menunjukkan segala pertentangan yang mendasar dalam hidup ini : baik-jahat, aktif-pasif, positif-negatif, terang-gelap, musim panas-musim dingin, pria-wanita, dan sebagainya. Tetapi walaupun asas-asasnya berada dalam ketegangan asas-asas itu tidak bertentangan secara mutlak. Asas-asas itu saling melengkapi dan saling mengimbangi satu dengan lainnya. Tiap-tiapnya memasuki ayah yang lain dan menempatkan dirinya dititik pusat dari wilayah lawannya itu. Pada akhirnya keduanya itu menyatu dalam sebuah lingkaran yang saling melingkupi sebagai suatu perlambang dari kesatuan terakhir dari Tao. Karena selalu berputar dan bertukar tempat hal-hal yang berlawanan hanya merupakan suatu tahap dari suatu roda yang sedang berputar. Hidup ini tidak bergerak ke depan dan ke atas menuju suatu puncak atau kutub yang telah mapan. la berputar dan melengkung kembali kepada dirinya sendiri sampai dirinya membentuk lingkaran yang utuh dan sadar bahwa dititik pusat semua hal itu adalah satu. Susunan inilah yang terkenal disebut dengan “Tao Ji” yaitu jalan yang diikuti oleh universum yang ditandai oleh musim setiap tahun. Kunfusianisme berpendapat demikian juga.

C. Perkembangan selanjutnya ajaran Taoisme.
Perkembangan selanjutnya ajaran Taoisme terletak ditangan para murid-murid Lao Tse yang terkenal diantaranya bernama Chung Tse’. Filosof Lao Tse meninggalkan sebuah kitab kecil “Tao Te’ King” yang berisi 5000 perkataan Tionghoa yang kemudian dikomentari oleh Chuang Tse menjadi 52 buah buku tebal (yang masih ada tinggal 33 buku saja). Buku Chuang Tse tersebut menjadi terkenal dan populer dinegeri Tiongkok dan banyak dikagumi orang disana. Akan tetapi sayang tulisan-tulisan Chuang Tse’ tersebut tidak mengambarkan ajaran Lao Tse yang murni, oleh karena disana sini penuh dengan pandangannya sendiri yang menyimpang dari ajaran gurunya. Setelah Chuang Tse meninggal, maka banyak penulis yang melanjutkan ajaran Taoisme dalam bentuk keagamaan. Kemudian setelah Taoisme dipandang sebagai agama maka faham ini mengalami kemerosotan karena di masukkannya magic takhayul, pendewaan terhadap kekuatan alam. Bahkan Lao Tse sendiri diperdewakan orang. Ketka Budhisme masuk Tiongkok, Taoisme meminjam dan padanya faham “reinkarnasi” (penitisan roh kembali) sehingga Lao Tse dianggap sebagai titisan dewa Budha. Setelah itu didirikanlah banyak kuil diseluruh Tiongkok diciptakan juga upacara-upacara dan kurban-kurban dan sebagainya untuk memuja Lao Tse dan roh-roh halus.
Maka akhirnya terjadilah percampuradukkan antara Taoisme dan Budhisme yang selanjutnya sulit dibedakan antara keduanya terutama dalam upacara-upacara pemujaan serta upacara-upacara keagamaan lainnya. Bertambah sulit lagi setelah Kunfusianisme bercampur baur dengan kedua faham tersebut. Pendapat Prof. James Legge ahli purbakala Cina (ahli sinologi) mengatakan babwa lebih dari 1000 tahun, “3 agama” telah terbentuk di Tiongkok yaitu Kunfusianisme,Taoisme dan Budhisme; bahkan menurut Prof. H. C Bleeker Taoisme menjadi agama berhala yaitu menjadi persekutuan keagamaan sebagaimana agama Hindu atau agama nasrari. Persekutuan tersebut timbul pada masa dinasti Han (221 Masehi) dimana didalamnya terdapat pemujaan terhadap orang-orang suci Taoisme dan dewa-dewa disertai dengan kurban-kurban dan upacara suci.

PENUTUP

Dari uraian-uraian yang sudah dikemukakan diatas tampak bahwa agama rakyat merupakan sistem kepercayaan dan peribadatan yang benar-benar hidup di kalangan rakyat Jepang dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka seperti yang terlihat dalam kegiatan-kegiatan keluarga, rukun tetangga dan hari-hari libur nasional Jepang. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap kepercayaan tradisional Jepang dan tempat agama rakyat, dalam kehidupan masyarakat Jepang modern yang termuat dalam laporan hasil penelitian yang diberi judul Nihonjin-no-kokuminsei (sifat nasional Jepang), maka pemujaan terhadap arwah nenek moyang menempati kedudukan utama dalam kehidupan masyarakat Jepang (77% diantaranya 2.254 orang yang tersebar di seluruh negeri Jepang).
Di samping itu rangkaian upacara dan perayaan tahunan masih tetap memainkan peranan penting dalam agama rakyat, terutama dalam lingkungan masyarakat pertanian yang umumnya terdapat dalam agama rakyat fungsinya sudah jauh berkurang, namun berbagai rangkaian kegiatan yang sepanjang tahun menjadi salah satu diantara ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama yang sudah melembaga seperti agama Shinto.

~ by timuran151 on August 22, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: