Gn Merapi

Oleh DJULIANTO SUSANTIO Letusan gunung api merupakan fenomena biasa di Indonesia, tak ubahnya bencana alam seperti halnya gempa bumi, banjir, atau tanah longsor. Saat ini di Indonesia masih terdapat sejumlah gunung api aktif. Yang dinilai paling aktif adalah gunung Merapi. Sepanjang sejarahnya, diperkirakan Merapi telah meletus lebih dari 100 kali. Entah sejak kapan Merapi mulai meletus. Namun setelah dikenalnya tradisi tulisan di Indonesia pada abad ke-5, baru pada abad ke-9 ada informasi penting tentang letusan Merapi yang begitu hebat. Sebelumnya, para pakar hanya menduga-duga saja berdasarkan sedimen (lapisan tanah) yang ditimbulkannya.

Ketika itu, kira-kira sebelas abad yang lampau, di Jawa berdiri sebuah kerajaan besar, Mataram (Hindu). Karena pemerintahan Raja Rakai Sumba Dyah Wawa berakhir dengan tiba-tiba, maka para pakar menghubungkannya dengan letusan Merapi. Menurut R.W. van Bemmelen dalam bukunya The Geology of Indonesia (1949), letusan itu demikian dahsyat dan mengakibatkan sebagian besar puncak Merapi lenyap. Bahkan terjadi pergeseran lapisan tanah ke arah Barat Daya sehingga terjadi lipatan yang antara lain membentuk Gunung Gendol. Letusan tersebut juga disertai gempa bumi, banjir lahar, serta hujan abu dan batu-batuan yang sangat mengerikan (Sejarah Nasional Indonesia II, 1985, hal. 155). Bencana alam ini, sebagaimana disebutkan oleh Boechari—seorang arkeolog yang mendalami bidang epigrafi—mungkin merusak ibukota Medang dan banyak daerah permukiman di Jawa Tengah. Oleh rakyat, bencana ini disebut pralaya atau kehancuran dunia.

Diperkirakan bencana hebat itu melanda Mataram pada abad ke-9 hingga ke-10. Secara tersirat prasasti Rukam (829 Saka atau 907 Masehi) menyebutkan peresmian desa Rukam oleh Nini Haji Rakryan Sanjiwana karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunung api. Kemungkinan besar, gunung api yang dimaksud adalah Merapi. Hal ini mengingat prasasti Rukam ditemukan di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Letusan yang hebat konon kembali terjadi pada 1672. Naskah klasik Babad Tanah Jawi mengatakan demikian, “Kala itu berbarengan dengan meletusnya Merapi, suaranya menggelegar menakutkan. Batu-batu besar beradu beterbangan bercampur api. Jika diamati seperti hujan batu. Lahar mengalir kencang di sungai. Banyak desa terkubur dan hancur. Banyak orang desa meninggal, rakyat Mataram ketakutan kena terjang lahar panas dan hujan abu” (Bambang Soelist, 2002). Dikabarkan, akibat letusan itu langit di atas kerajaan Mataram (Islam) gelap gulita selama 24 jam.

Peristiwa tersebut terjadi pada 4 Agustus 1672, ketika kapal “Marken” milik Belanda sedang berlayar di Samudra Indonesia, di sebelah Selatan Kedu. Letusan Merapi memakan korban 3.000 orang, belum termasuk sawah ladang dan harta benda lainnya. Misteri Ironisnya, meskipun Merapi sering murka, wilayah sekitarnya masih saja dihuni warga. Mereka percaya, Merapi bukan ancaman, tetapi memberikan penghidupan yang baik kepada masyarakat. Seperti halnya konsep kuno, Merapi juga diyakini sebagai tempat tinggal roh leluhur. Gunung itu sakral dan patut dihormati. Konsep tersebut sebenarnya sudah ada sejak zaman prasejarah, terutama lewat tinggalan punden berundak. Setelah datang pengaruh Hindu, maka gunung dipandang sebagai tempat tinggal para dewa. Ketika gunung meletus, mereka berpendapat “para dewa sedang murka”. Dan agar tidak murka lagi, mereka memberikan sesajian. Di India, tempat asal agama Hindu, gunung yang dianggap suci adalah Gunung Kailasa. Dipercaya, Siwa sebagai Parwata (Dewa Gunung) tinggal bersama isterinya, Parwati (Putri Gunung) bersama dewa-dewa lain, seperti Indra (Dewa Perang) dan Agni (Dewa Api). Gunung lain yang dianggap suci adalah Mahameru. Gunung ini, menurut mitologi, pernah dipindahkan ke Jawa dan menjadi ceceran gunung-gunung kecil seperti Semeru, Merapi, Penanggungan, dan lain-lain.

Sering pula dipercaya, jika gunung menimbulkan suara gemuruh pertanda “para raksasa jahat sedang membuat keonaran”. Bagaimana mengalahkan para raksasa jahat itu tentu merupakan persoalan logika ilmiah masyarakat masa sekarang. Konsep “siapa” yang menyebabkan gunung meletus, bukannya “apa” yang menyebabkan gunung meletus, bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Legenda dan mitologi Eyang Merapi bersama istrinya, Nyi Loro Kidul masih kental pula hingga sekarang. Karena kearifan masa lampau, maka banyak warga enggan mengungsi jauh-jauh dari wilayah Merapi. Penguasa gunung dan laut itu dipercaya masih memberikan kesuburan kepada tanah-tanah di sekitarnya.

Candi Di Indonesia pendirian bangunan suci atau candi tak lepas dari konsep masa lampau itu. Jika diamati, banyak sekali candi didirikan di sekitar gunung, bukit, atau tempat ketinggian. Seberapa dahsyatnya bencana Merapi dulu kala, antara lain terekam dari jejak penemuan Candi Sambisari (abad ke-8). Candi yang terletak beberapa kilometer dari Candi Prambanan itu, ditemukan pada kedalaman sekitar tujuh meter. Karena bentuknya masih relatif utuh, tentulah orang menafsirkan bukanlah akibat gempa bumi yang menimbunnya, tetapi material gunung api yang menutupinya. Dari hasil penelitian diketahui material tersebut berasal dari bahan-bahan vulkanik. Dengan demikian jelas letusan Merapi begitu kuat.

Apalagi kalau dicermati, lokasi Candi Sambisari berada dalam radius belasan kilometer dari Merapi. Selain Sambisari, candi-candi lain yang pernah menjadi korban Merapi adalah Kajangkoso, Asu, Pendem, Gebang, Morangan, Kedulan, Purwomartani, dan Pacitan. Banyak benda arkeologis juga pernah ditemukan dari sekitar Merapi. Tak dimungkiri, berkali-kali letusan Merapi telah mengubur kota-kota kuno di sekitarnya. Sayang, sampai kini para arkeolog belum pernah menemukan kota-kota kuno itu. Sekalipun bagi masyarakat sekitar letusan Merapi merupakan bencana, namun bagi arkeolog yang hidup pada masa kemudian, letusan tersebut merupakan “berkah”. Banyaknya penemuan artefak kuno dari situs Merapi, akan semakin membuka cakrawala ilmu pengetahuan kita karena dapat menjadi model untuk penelitian selanjutnya. Hanya yang menjadi kendala adalah banyak situs sudah tertutup lahan permukiman, perkebunan, dan persawahan penduduk. Karena itu penelitian situs perkotaan membutuhkan pembiayaan dan waktu sangat besar. Ini karena untuk menemukan situs perkotaan, arkeolog harus melakukan ekskavasi secara horisontal dan bersifat masal. Mudah-mudahan, kasus bencana alam yang sering terjadi di Indonesia menjadi bahan pelajaran berharga buat para peneliti.*** DJULIANTO SUSANTIO Arkeolog, tinggal di Jakarta Sejarah

Eropsi Merapi Berdasarkan sejarah, Gunung Merapi mulai tampil sebagai gunung api sejak tahun 1006, ketika itu tercatat sebagai letusannya yang pertama (Data Dasar Guungapi Indonesia, 1979). Sampai Letusan Februari 2001, sudah tercatat meletus sebanyak 82 kejadian. Secara rata-rata Merapi meletus dalam siklus pendek yang terjadi setiap antara 2 – 5 tahun, sedangkan siklus menengah setiap 5 – 7 tahun. Siklus terpanjang pernah tercatat setelah mengalami istirahat selama >30 tahun, terutama pada masa awal keberadaannya sebagai gunungapi. Memasuki abad 16 catatan kegiatan Merapi mulai kontinyu dan terlihat bahwa, siklus terpanjang pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 dan kegiatan 1658. Eropsi Gunung Merapi selalu dilalui dengan proses yang panjang yang dimulai dengan pembentukan kubah, guguran lava pijar, awanpanas yang secara definisi sesungguhnya awal dari erupsi tipe efusif. Di bawah ini ditampilkan tabel yang memuat waktu letusan dan lamanya letusan tersebut yang dihitung sejak masa awal proses erupsi hingga letusan puncak secara menyeluruh Referensai Utama Direktorat Vulkanologi Data Dasar Gunung api Indonesia 1979, B. Voight, R.Sukhyar dan A.D. Wirakusumah Journal of volcanology and geothermal research Volume 100, 2000, J.A. Katili, Suparto S.

Pemantauan Gunungapi di Indonesia dan Filipina, 1995 Karakter dan Gejala Letusan Sejak awal sejarah letusan Gunung Merapi sudah tercatat bahwa tipe letusannya adalah pertumbuhan kubah lava kemudian gugur dan menghasilkan awanpanas guguran yang dikenal dengan Tipe Merapi (Merapi Type). Kejadiannya adalah kubahlava yang tumbuh di puncak dalam suatu waktu karena posisinya tidak stabil atau terdesak oleh magma dari dalam dan runtuh yang diikuti oleh guguran lava pijar. Dalam volume besar akan berubah menjadi awanpanas guguran (rock avalance), atau penduduk sekitar Merapi mengenalnya dengan sebutan wedhus gembel, berupa campuran material berukuran debu hingga blok bersuhu tinggi (>700oC) dalam terjangan turbulensi meluncur dengan kecepatan tinggi (100 km/jam) ke dalam lembah. Puncak letusan umumnya berupa penghancuran kubah yang didahului dengan letusan eksplosif disertai awanpanas guguran akibat hancurnya kubah. Secara bertahap, akan terbentuk kubahlava yang baru. Hartman (1935) membuat simpulan tentang siklus letusan Gunung Merapi dalam 4 kronologi yaitu: Kronologi 1. Diawali dengan satu letusan kecil sebagai ektrusi lava.

Fase utama berupa pembentukan kubahlava hingga mencapai volume besar kemudian berhenti. Siklus ini berakhir dengan proses guguran lava pijar yang berasal dari kubah yang terkadang disertai dengan awanpanas kecil yang berlangsung hingga bulanan. Kronologi 2. Kubahlava sudah sudah terbentuk sebelumnya di puncak. Fase utama berupa letusan bertipe vulkanian dan menghancurkan kubah yang ada dan menghasilkan awanpanas. Kronologi 2 ini berakhir dengan tumbuhnya kubah yang baru. Kubah yang baru tersebut menerobos tempat lain di puncak atau sekitar puncak atau tumbuh pada bekas kubah yang dilongsorkan sebelumnya. Kronologi 3. Mirip dengan kronologi 2, yang membedakan adalah tidak terdapat kubah di puncak, tetapi kawah tersumbat. Akibatnya fase utama terjadi dengan letusan vulkanian disertai dengan awanpanas besar (tipe St. Vincent ?). Sebagai fase akhir akan terbentu kubah yang baru. Kronologi 4.

Diawali dengan letusan kecil dan berlanjut dengan terbentuknya sumbatlava sebagai fase utama yang diikuti dengan letusan vertikal yang besar disertai awanpanas dan asap letusan yang tinggi yang merupakan fase yang terakhir. Pada kenyataannya, terutama sejak dilakukan pemantauan yang teliti yang dimulai dalam tahun 1984, batasan setiap kronologi tersebut sering tidak jelas bahkan bisa jadi dalam satu siklus letusan berlangsung dua kronologi secara bersamaan, seperti pada Letusan 1984. Seiring dengan perkembangan teknologi, sejak 1984 ketika sinyal data dapat dikirim melalui pemancar radio (radio telemetry) sistem tersebut mulai dipergunakan dalam mengamati aktivitas gunungapi di Indonesia, termasuk di Gunung Merapi. Dan sejak saat itu gejala awal letusan lebih akurat karena semua sensor dapat ditempatkan sedekat mungkin dengan pusat kegiatan tergantung kekuatan pemancar yang dipergunakan, secara normal dapat menjangkau hingga jarak antara 25 – 40 km.

Hampir setiap letusan Gunung Merapi, terutama sejak diamati dengan seksama yang dimulai tahun 80-an, selalu diawali dengan gejala yang jelas. Secara umum peningkatan kegiatan lazimnya diawali dengan terekamnya gempabumi vulkanik-dalam (tipe A) disusul kemudian munculnya gempa vulkanik-dangkal (tipe B) sebagai realisasi migrasinya fluida ke arah permukaan. Ketika kubah mulai terbentuk, gempa fase banyak (MP) mulai terekam diikuti dengan makin besarnya jumlah gempa guguran akibat meningkatnya guguran lava. Dalam kondisi demikian, tubuh Merapi mulai terdesak dan mengembang yang dimonitor dengan pengamatan deformasi. Sebagai contoh kasus, berikut ini ditampilkan secara lengkap hasil rekaman seismograf dan tiltmeter yang memonitor kegiatan vulkanik Gunung Merapi pada Kegiatan 2000-2001. Daftar Pustaka Karakteristik Gunungapi, 2000, BPPTK

~ by timuran151 on August 21, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: