Letusan Gunung Merapi itu Dahsyat…

Evakuasi korban wedus Gembel

Liputan bencana Gn Merapi berbeda dengan bencana lainnya…

Tanggal 3 November 2010, sekitar pukul 15.00. saya bersama tim liputan Trans Tv tiba di kantor kecamatan Cangkringan, Jaraknya sekitar 17 km dari puncak Gn Merapi. Lokasi itu diputuskan menjadi tempat untuk siaran live reportase sore.  Dan merupakan lokasi yang terbilang aman setelah BPPTK menaikan status zona bahaya dari asalnya 10 km dari puncak merapi menjadi 15 km dari puncak merapi. Lokasi itu kita pilih karena balai kantor tersebut menjadi tempat pengungsian baru bagi pengungsian sebelumnya berada di zona bahaya. Namun saat itu tidak ada satu orangpun pengungsi yang berada dibalai tersebut, yang ada hanya tumpukan pakain bantuan yang belum tersalurkan. Menurut salah seorang warga, sebelumnya bayak pengungsi yang tinggal ditempat iu namun malam sebelum kedatangan kita mereka bergerak sekitar 3 km turun kebawah  dari kantor kecamatan. Seperti punya pirasat bahwa tempat itu tidak aman bagi mereka untuk dijadikan tempat pengungsian.

5 menit menjelang live, terdengar bunyi petir yang sangat besar sekali. Gelegar bunyi petir itu membuat panik dua orang driver dan mereka memaksa untuk turun ke bawah karena dikiranya bunyi tersebut adalah letusan dari Gn Merapi. Untunglah kepanikan mereka sedikit bisa direda.

Beberapa orang warga ikut membantu kita dan berusaha mencari informasi mengenai kemungkinan-kemungkinan jika Gn merapi mengeluarkan letusan yang paling besar. Terutama arah aliran lava pijar dan awan panas. Pasalnya 500 meter disebalah kanan kantor kecamatan cangkringan merupakan sungai Kali Gendol yang menjadi pusat utama aliran wedus gembel tersebut.  Yang kita cari adalah informasi mengenai keberadaan pengungsi atau warga yang masih tetap tinggal di zona bahaya. Warga meyakinkan bahwa masih banyak warga yang merasa berat meninggalkan rumahnya sehingga mereka tidak mau meninggalkan rumahnya terutama masih banyaknya hewan ternak yang juga belum di evakuasi. Informasi itu sebenarnya untuk update berita kita esok hari.

Usai live,Karena hujan tak juga reda, kita bersama semua crew turun ke bawah, seperti biasa dua kendaraan SNG dan News Van ditugaskan untuk mencari lokasi aman. Sementara crew liputan turun kebawah untuk mencari tempat makan. Namun ditengah perjalanan kami menemukan bangunan ruko-ruko kecil yang belum jadi tapi dipadati para pengungsi. Tepatnya berada di kecamatan Ngemplak sekitar 3 km dari kantor kecamatan Cangkringan. Sepertinya kami menemukan lokasi para pengungsi yang sebelumnya sempat singgah dibalai yang tadi kita jadikan titik live sore. Para pengungsi ini adalah mereka yang sebelumnya berada di barak pengungsian Kepuharjo. Mereka baru menempati tempat ini sehari setelah terjadi letusan yang terjadi pada tanggal 2 November kemaren tepatnya sekitar pukul 15.05 yang membuat BPPTK menambah zona bahaya dari sebelumnya 10 km dari puncak Gn Merapi menjadi 15 km dari puncak Gn Merapi.

Beberapa orang pengungsi Nampak kelelahan dan pastinya kondisi mereka sudah mulai drop. Apalagi melihat sarana yang terbatas. Mereka juga mengaku semakin takut karena kondisi Gn teraktif di dunia ini makin tidak bisa diperkirakan. Setelah selesai mengambil gambar dan mewawancarai mereka akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Liputan tadi sebenarnya untuk update berita malam.

Selesai makan, tepat sekitar pukul 22.00 wib, saya mencari warnet untuk bisa mengirimkan gambar liputan tadi. Perasaan sudah merasa tidak enak dan badan pun sudah mulai drop karena kondisi cuaca yang juga mempengaruhi fisik kita. Kadang hujan, kadang panas sesekali jika arah angin ke wilayah selatan kita juga merasakan derasnya hujan abu. Namun apa boleh buat kondisi seperti ini sudah menjadi hal biasa. Tepat jam sebelas malam saya pulang ke hotel, namun saat itu tidak langsung tidur, walaupun field produser yang merupakan partner sekamar saya sudah lebih duluan tidur. Beberapa kali Saya memindahkan chanel televisi untuk menyaksikan perkembangan informasi dari beberapa televisi nasional. Selang setengah jam handphone saya bunyi. Waktu itu saya di kasih tau oleh teman saya Wahyu Juniawan (koresponden Trans TV Jogjakarta) bahwa malam ini harus siaga karena informasinya Gn merapi terus-terusan mengeluarkan letusan  dan mengeluarkan lava pijar. Saya penasaran dan keluar kamar, ternyata diluar sudah hujan abu. Tepat jam 00:15, kembali saya mendapatkan informasi dari teman saya wahyu itu dan mengabarkan bahwa telah terjadi letusan sangat besar dan semua warga dan para pengungsi akan di evakuasi ke jogja.

Seketika itu juga saya langsung membangunkan Erwin hadi, produser saya dan doni mincuk, crew tim liputan trans tv lainnya. Dengan mengunakan mobil saya bersama mereka langsung keluar hotel dan tujuannya menghampiri posko utama pakem. Hanya saja saat Masuk ke jalan kali urang, suasana jalan sudah padat dan macet sekali. Ribuan kendaraan dari arah GN merapi menuju jogja antri dan sebaliknya ratusan kendaraan evakuasi baik truk TNI dan Polri serta tim SAR yang akan mengevakuasi warga harus antri juga untuk bisa menembus kemacetan yang paling parah ini. Ditambah derasnya hujan abu yang menghilangkan jarak pandang laju kendaraan. Teman saya doni mincuk langsung mengambil moment tersebut terutama aktivitas para warga dan mahasiswa yang sukarela membantu menyiramkan air ke setiap kaca depan mobil dari kedua arah. Selesai on came saya bersama yang lainnya langsung melanjutkan perjalanan, namun saat itu tujuan kita dialihkan yang sebelumnya hanya akan menuju ke posko pengungsian Utama, sekarang tim menginginkan untuk pergi ke Hargobinangun. Hargobinangun adalah lokasi pengungsian terbesar di kecamatan Pakem disana ada sekitar ribuan pengungsi yang sudah enam hari menetap disana. Dan dilokasi inipula asalnya dijadikan base camp tim liputan Trans Tv.

Untungnya saya bersama orang-orang yang sudah berpengalaman, diperkuat dengan keberadaan  Doni mincuk yang merupakan warga asli kecamatan pakem. Tentu saja untuk bisa ke lokasi tujuan dia tau jalan tikus yang bisa menghindar dari kemacetan ini, serta menghindar dari pemblokiran jalan menuju atas oleh pihak aparat. Saat itu kami belum mendapatkan informasi mengenai arah luncuran awan panas menuju daearh mana. Namun berdasarkan keyakinan kita serta melihat ke arah timur langit sedikit cerah, tim tetap pada keputusan kedua, bahwa kita akan menuju Hargobinangun.

Dipertengahan jalan disekitar kawasan perkebunan salak, kami mendapatkan masalah karena disepanjang jalan sempit itu ada beberapa pohon tumbang menutup akses jalan. Suasana diluar sangat gelap sekali, penerangan hanya dari kendaraan kita dan tidak ada satupun warga yang tinggal disitu. Driver kami yang asli warga jogja mulai panic dan ketakutan. Mungkin dia bisa merasakan.Wajahnya murung sepertinya dia tidak menginginkan kita menuju ke lokasi yang kita tuju. Saat itu kita sudah berusaha membesarkan hatinya, namun sedikit kesal karena konsentrasi dia sudah mulai terganggu. Masalahnya ketika pohon yang menutup jalan sudah digeser dan bisa dilalui. Kepanikan dia mulai menjadi apalagi persenelen mobil yang seharusnya dimasukan ke gigi satu malah sebaliknya, dia masukin gigi atret yang otomatis mobil yang seharusnya maju malah mundur. Hehehe kasian dia sedikit kena semprot tim liputan, walaupun dia membela dengan membalas kesal.

1 km dari lokasi pohon tumbang, disepanjang jalan kami melihat rumah-rumah gelap penuh debu dan pasir yang ditinggal penghuninya. Disana sama sekali sudah tidak ada kehidupan. Dipertengahan jalan menuju Hargobinangun, kedua kalinya laju kendaraan yang kami tumpangi harus berhenti ditengah dijalan karena ada satu pohon tumbang namun tidak terlalu besar  menutup akses jalan. Untungnya hal itu bisa kami atasi. Setelah melewati sebuah jembatan yang tidak terlalu panjang kami mendapatkan pertigaan jalan, rupanya jalan itu yang sudah kita kenal. Sang driverpun sedikit tenang. Kami tepat berada dikawasan kali urang dan  akhirnya kami memilih jalan kanan yang merupakan jalan utama menuju Hargobinangun.

saya langsung merinding saat menyaksikan kegelapan dan beberapa tenda roboh dan tanaman-tanaman yang berada dipekarangan rumah warga hancur. Tadinya saya belum ingat bahwa tempat itu adalah Hargobinangun, baru teringat setelah melihat plang sekolah dan disampingnya adalah sebuah mesjid. Tapi perasaan tidak bisa dibohongi, mental saya mulai turun saat melihat situasi dan kondisi disana yang serba berantakan mungkin ini bekas terjangan badai dan hujan pasir yang sangat deras. Bayangkan batu-batu kecil yang masih hangat banyak berserakan di kawasan itu padahal kalau di ukur jaraknya dari puncak merapi adalah 12 km.

Saat itu juga saya langsung keluar dari mobil. Diluar bau belerang sangat menyengat, namun  pandangan sesekali menatap kearah langit dan terus mengawasi langit yang diselimuti awan hitam sambil merasakan arah angin. yang terpikir saat itu adalah satu, arah luncuran awan panas  Karena rasa takut mulai datang dan waktu kita disana juga dipersingkat. Setelah sang kameramen mengambil beberapa gambar liputan kerusakan dan suasana, rencananya kita akan langsung turun kebawah. Namun kita dikejutkan dengan munculnya cahaya lampu dari gedung samping mesjid yang disana sebelumnya terdapat ribuan pengungsi. Rupanya cahaya yang muncul itu bersumber dari sepeda motor. Melihat ada orangnya kita langsung menghampirinya dan berbincang-bincang. Rupanya dia bangun tidur dan ditinggal oleh tim evakuasi dan ribuan pengungsi lainnya saat terjadi letusan beberapa jam yang lalu. Anehnya dia sendiri tidak mendengar kegaduhan, bisa jadi karena terlalu pulas tidurnya.

Tak lama setelah itu kita langsung turun kebawah karena angin mulai kencang dan khawatir jika awan panas meluncur ke arah kita. Disepanjang jalan menuju posko utama pakem, kecamatan ini sudah menjadi kota mati. Selain Gelap gulita, rumah tertutup debu, pohon-pohon yang tumbang berserakan dan banyak kendaraan milik warga yang terparkir ditengah jalan. Besar kemungkinan kendaraan-kendaraan yang  mogok itu sengaja dibiarkan oleh pemiliknya karena terburu-buru pada saat letusan tersbesar terjadi. Bahkan tidak sedikit mobil warga yang juga dibiarkan setelah menabrak pagar rumah orang dan ada juga mobil yang terperosok ke jurang rendah.

Memang jika melihat debu disepanjang jalan  hargobinangun menuju posko pakem terbilang sangat tebal. Bisa dibayangkan bahwa letusan yang dikategorikan high explosive yang terjadi tanggal 4 november 2010 tepatnya sekitar pukul 00:15 itu hampir menyamai ledakan Gn Galunggung yang terjadi pada tahun 1982 membuat semua warga kepanikan. Terutama mereka panik dengan luncuran awan panas dan muntahan material vulkanik. letusan terbesar seperti ini terakhir terjadi pada140 tahun yang lalu tepatnya sekitar tahun 1870. sekitar pukul 03.00 BPPTK memperluas areal bahaya menjadi 20 km dari puncak Gn Merapi.

Posko utama pakem sangat sepi sekali, biasanya disini banyak sekali tim relawan dan tim sar yang berkumpul sambil menunggu dan memantau perkembangan Gn Merapi dan para pengungsi. Suasana sangat ramai setelah melewati lapas narkotika yang baru dibangun. Kendaraan-kendaraan tim evakuasi dan ambulance lalu lalang ada yang turun dan ada juga yang naik. Di perjalanan kita mengontak keberadaan tim lain, termasuk dua temen koresponden yang bertugas siang malam. Tim semua terpecah ada yang di stadion maguoharjo dan ada juga yang sedang ikut tim sar mencari para korban. Tepat sekitar pukul 04.00, kami tiba di depan rumah sakit Sardjito. Suasana disana sangat ramai. Dua mobil SNG dan News Van sudah berada didepan rumah sakit persis disamping SNG Metro TV.

Puluhan wartawan cetak dan elektronik baik lokal, nasional ataupun asing sudah berkumpul tepat didepan instalasi gawat darurat. Setiap 5 menit sekali mereka disibukan dengan bunyi sirine ambulance yang didalamnya membawa para korban. Pada saat itu korban jiwa yang tercatat baru 1 orang itupun bayi kira-kira usia 5 bulan, namun korban luka bakar sudah mencapai 60 lebih. Ngiris jika melihat secara langsung para korban wedus gembel. Kulit tubuh melepuh dan parahnya dipenuhi dengan debu. Bahkan ada juga dagingnya yang terbakar.

20 menit menjelang live reportase pagi, koresponden jogja teguh supriyadi memberikan kaset liputan pencarian korban dengan tim SAR DIY.meski hanya melihat di VTR hasil liputan teguh, mata kami tidak hentinya melihat gambar suasana langsung disuatu kampung dikecamatan cangkriman yang tersapu langsung oleh luncuran awan panas. Mayat-mayat saling berserakan ada yang dihalaman dan ada juga yang didalam rumah dalam kondisi yang sudah terpanggang. Api yang membakar rumah masih menyala, tim sar dan tim liputan sangat berhati-hati mengevakuasi mayat korban. Mereka pilih-pilih jalan karena tanah yang di injak masih panas. Bisa dibayangkan suhu 600 derajat yang dibawa awan panas itu masih bersisa dan menghambat jalannya evakuasi.

Usai live direportase pagi, tepat sekitar pukul 06.30 wib, kami langsung memantau ke gedung pemulasaran jenazah yang berada dibelakang rumah sakit. Tak jauh berbeda dengan suasana di IGD. Disana juga ramai sekali, setiap sepuluh menit mobil ambulane datang membawa mayat korban yang kering tinggal tulang dan sisa daging yang sudah menyatu dengan tulangnya. Tentunya saja setiap mayat sulit dikenali. Para keluarga korban yang selamat hanya menunggu tim dokter pemulasaran jenazah yang berusaha mengidentivikasi setiap jenazah. Pada saat itu jumlah korban baru sekitar 40 lebih namun angka itu terus bertambah hingga pada siang hari sekitar pukul 12.00 mencapai 80 korban jiwa.

Setelah cukup memantau suasana di ruang jenazah, kami langsung bergegas menuju maguoharjo. Yaitu stadion sepak bola yang baru dibangun dan dijadikan barak penungsian.  Disana ada Ratusan ribu pengungsi yang berhasil dievakuasi dari setiap barak pengungsian dan rumah warga kecamatan pakem, cangkringan dan kecamatan lainnya yang berada dizona bahaya.

Suasana disana lebih rame lagi, sama halnya ketika stadion ini akan digunakan untuk sebuah pertandingan liga indonesia, hanya bedanya orang-orang yang ada disana bukan berlomba untuk bisa masuk ke tribune stadion dan menyaksikan pertandingan. Namun berlomba-lomba mencari tempat untuk dijadikan tempat pengungsian hingga dua bulan ke depan.

Apalagi pada saat itu waktunya makan siang. Tim penanggulangan bencana ataupun satkorlak serta relawan baik dari Dapur umur TNI, POLRI ataupun organisasi lainnya, belum bisa menyediakan jatah makan untuk pengungsi yang jumlahnya sangat banyak sekali. Namun kondisi ini masih bisa dimengerti karena sebagian tim dan para relawan masih sibuk dengan proses evakuasi warga yang masih berada dizona bahaya, sementara tim relawan yang berada disekitar maguoharjo masih sebagian masih mengurus dan membagi-bagi area pengungsi dan sebagai lg masih ada yang membangun tenda-tenda untuk satkorlak.

Menjelang sore hari, para pengungsi makin bertambah banyak. Stadion sudah seperti pasar, suasananya sangat ramai. Dinas sosial ataupun relawan sibuk menyediakan berbagai fasilitas untuk kebutuhan ratusan ribu pengungsi. Sementara tim SAR masih mencari para koran. Gn merapi masih mengeluarkan letusan dan memuntahkan lava pijarnya meski intensitasnya tidak terlalu tinggi. Namun bahaya tetap mengancam warga sekitarnya. Saya bersama rekan yang lain mencoba merayu Tim SAR DIY unuk bisa ikut dalam kegiatan pencarian korban. Terutama ke lokasi yang tersapu awan panas.

Alhamdulilah mereka mengizinkan kami unttuk ikut dalam kegiatan pencarian esok hari. Tepat sekitar pukul 03.00 wib kami bersama produser Erwin Hadi dan beberapa tim liputan lainnya bangun lebih awal. Posko SAR DIY memang idak jauh dengan penginapan. Tepat jam 05.00 wib kami bersama puluhan tim sar langsung bergegas menuju lokasi yang belum terjamah. Tepatnya dikawasan Glagaharjo. Tujuannya saat itu ke kampung ngacar didesa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, jaraknya kurang lebih sekiar 17 km dari puncak Gn Merapi. Tim sar membawa seorang penunjuk jalan yang merupakan warga sekiar yang berhasil menyelamatkan diri ketika merapi meletus pada tanggal 4 november lalu. Dia sendiri mengetahui jumlah rumah yang ada dikampungnya serta tahu persis orang-orang yang terjebak didalam maupun diluar rumah.

Sebelum sampai ditempat tujuan, sekitar 2 KM menuju kampung ngacar, delapan kendaraan Tim sar yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti karena mendengar gemuruh yang sangat besar dari kawasan Gn Merapi. Seketika kami keluar dan mata kami langsung tertuju ke puncak Gn merapi yang saat itu jelas terlihat. Gumpalan asap tebal keluar dari Puncak Gunung dan diyakinkan iu merupakan awan panas.  Namun bagian lereng merapi tertutup kabut. Sehingga suara gemuruh yang diyakini berasal dari material baik itu batu dan kerikil serta awan panas yang turun kebawah tidak terliha sama sekali.

Setelah hampir 15 menit kami menunggu, bunyi gemuruh tidak juga hilang. Malah sebaliknya bunyi gemuruh makin membesar dan makin mendekat. ketua tim SRU (search Rescue Unit) langsung memerintahkan untuk segera turun dan menjauh dari lokasi ini. Setelah menjauh sekitar 4 km dari lokasi tadi, tim sar langsung berhenti dan mematau perkembangan suara gemuruh tadi melalui prekwensi radio. Ketika itu banyak warga yang akan menuju ke arah merapi namun langsung dicegah oleh tim sar. Tapi tidak sedikit juga warga yang bandel dan tetap ngotot untuk pergi ke rumahnya untuk mengamankan hewan peliharaannya.

Satu jam telah berlalu, bunyi gemuruh itu sudah hilang. Ketua tim langsung memerintahkan kami untuk masuk ke dalam mobil. perjalanan dilanjutkan sampai ke kampung ngacar, namun dipersimpangan jalan semua kendaraan berhenti. tim sar membagi tim yang satu memantau frekuensi radio, yang tim kedua memantau aktivitas Gn merapi sementara yang ke tiga melakukan pencarian korban. Tim yang melakukan pencarian jumlahnya tidak terlalu banyak dan hanya disediakan dua mobil saja. satu mobil ambulance dan yang kedua kendaraan off road. Dua mobil yang akan melakukan pencarian korban masuk ke sebuah jalan kecil, tepat dipersimpangan jalan langsung berhenti dan dilanjutkan dengan jalan kaki. Suasana disana sudah berubah. Kami seperti berada di padang tandus yang kering dan panas serta bau yang terbakar. Pamandangan yang ada disekitarnya hanya berwarna abu dan pohon-pohon yang tinggal ranting dan kering namun masih banyak sisa api yang masih menyala. Tim sar lalu mencari ranting pohon yang besar untuk membuka jalan karena tanah yang kami injak masih panas. Bayangkan tanah yang panas itu sisa dari luncuran awan panas dua hari yang lalu tapi panasnya masih terasa. Untuk membuktikan jalan itu bisa dilalui hanya dengan ranting itu. Jika ranting yang dilempar langsung menyala berarti tanah itu masih panas dan dibawahnya masih ada api, sebaliknya jika ranting yang dilempar tidak menyala berrati tanah itu aman untuk dilalui.

Setelah berjalan diatas ranting kurang lebih sekitar 300 meter, kami melihat beberapa bangunan rumah yang setengah bangunannya sudah terendam material abu vulkanik. Tujuan pencarian memang kesana, namun karena harus ekstra hati-hati, tim sar hanya mengutus satu orang saja untuk mencapai ke rumah tersebut. Menurut informasi dari pa nana yang menjadi penunjuk jalan dari warga setempat yang berhasil menyelamatkan diri, tepat dirumah tersebut ada sekitar 3 orang warga yang terjebak ketika letusan yang besar itu terjadi. Berdasarkan informasi itulah tim sar bergerak untuk mencari ketiga korban. Satu orang tim yang diutus tadi berhasil membuka jalan disusul beberapa orang tim sar lainnya yang membawa perlngkapan seperti cangkul dan skop. Tim sar yang masuk rumah langsung melakukan penggalian, dan berhasil menemukan dua mayat yang sudah kering dalam kondisi saling berpelukan. Besar kemungkinan kedua jenazah tersebut adalah ibu dan anaknya yang masih kecil. Sementara yang satu lagi belum ditemukan karena posisinya tidak diketahui. Sebenarnya masih banyak rumah yang belum dijalam tim sar, dikampung itu saja ada puluhan rumah lagi yang saat itu belum di evakuasi.

Sebenarnya saat itu tim sar masih akan melakukan pencarian ke rumah yang berada disampingnya, namun suara gemuruh yang sangat besar tiba-tiba datang lagi. Pertanda Gn merapi erupsi lagi. Ketua tim langsung memerintah kami untuk balik kanan ke tempat tadi dengan secepatnya. Meski hanya satu jam saja kami melakukan pencarian dikampung ngacar, tapi kami benar-benar puas. Selain berhasil mengabadikan gambar tim sar yang tengah  evakuasi mayat korban juga mengetahui secara langsung keganasan gunung teraktif didunia ini. Sambil mengambil gambar jalannya evakuasi mayat ke mobil ambulance, sesekali saya melihat ke arah suara gemuruh tapi beruntung kepanikan itu berhasil saya atasi. Karena mobil sudah penuh, dan kendaraan yang kosong hanya diambulance yang sudah terisi dua mayat tadi. Memang nga ada pilihan lain, akhirnya kami masuk dan berada didalam bersama dua mayat yang sudah kering. Diperjalanan yang hanya sepuluh menit, udara dalam mobil yang kami cium hanya manusia yang terbakar. Baunya sangat khas tidak seperti bau barang yang terbakar. Namun langsung menusuk hidung.

Ditempat pembagian tim tadi kami melihat sudah banyak orang, selain TNI, POLRI relawan ada juga beberapa orang kameramen dan fotographer dari media lain yang menunggu kedatangan kami. Informasi yang mereka dapatkan adalah adanya beberapa tim sar dan wartawan televisi yang terjebak dikampung ngacar pada saat erupsi tadi terjadi. Informasi itu tidak benar, kenyataannya Alhamdulilah kami selamat dan tidak terjebak. Memang kami berada disana tengah melakukan liputan kegiatan pencarian, namun ketika akan melakukan pencarian ke rumah berikutnya erupsi terjadi lagi dan pada saat itu tim sar memutuskan untuk menghentikan pencarian dan pulang ke posko sar diy.

Mobil ambulance yang kami tumpangi menjadi sasaran para kameramen dan fotographerr. Pada saat pintu belakang ambulance dibuka saya bersama bersama produser erwin hadi, reporter belatrik yanif dan kely serta kameramen cahyo langsung keluar dan masuk ke mobil yang sebelumnya kami tumpangan. Ambulance langsung bergegas disusul seluruh tim sar dan tim lainyya untuk menghindar dari lokasi tersebut.

Liputan di Gn merapi ini  berbeda dengan liputan bencana lainnya seperti Gempa dan tsunami. Liputan bencana Gn meletus itu harus mateng dan ekstra hati-hati. Selain itu diwajibkan mengetahui perkembangan serta pengetahuan dan karakteristik dari gunung tersebut dan kampung yang berada disekitarnya. Karena jika salah kita juga bisa menjadi korban. Tidak ada satu orang pun yang tahu letusan itu akan terjadi kapan dan sampai kapan. Setiap menit dan setiap jam letusan itu terus terjadi namun kita tidak tahu bahayanya seperti apa.

~ by timuran151 on August 7, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: