Demi Mengenyam Pendidikan, Puluhan siswa sebrang sungai

***Budhy Pardiana

untuk mendapatkan pendidikan yang layak, Puluhan siswa menyebrang sungai

Jika untuk mendapatkan pendidikan yang layak harus dibayar mahal memang sudah lumrah di indonesia, namun apabila untuk mendapatkan pendidikan meskipun yang paling rendah tapi harus dibayar dengan resiko nyawa, itu bisa di hitung dengan jari. seperti yang dialami puluhan anak-anak dikabupaten Tasikmalaya ini, tepatnya dikampung kulur, Desa Ciandum, Kecamatan Cipatujah. setiap harinya mereka harus melintasi tiga sungai besar dan harus berjalan sejauh 3 km hanya untuk mendapatkan pendidikan dibangku sekolah. bayangkan, sungai yang arusnya deras setiap

hari mereka lintasi. tapi tak sedikitpun rasa sesal dan lelah yang nampak diraut wajah mereka. kenyataannya anak-anak ini cukup senang melewati semuanya. biasanya mereka berangkat rame-rame sekitar pukul 05.30. hari sabtu tadi (4/12), saya bersama teman mencoba mengikuti rutinitas mereka. kata pertama yang saya ingatkan kepada mereka agar berhati-hati. tapi sulit diduga kalau ternyata anak-anak sekecil ini memiliki semangat dan keberanian yang memang sangat luar biasa. dengan tenang anak-anak yang rata-rata berusia 6 sampai 10 tahun ini berjalan menyusuri pinggiran sungai dan mencari arus yang paling kecil, lalu mereka melintas meski arus yang mereka anggap kecil itu lumayan cukup deras. memang mereka sudah terbiasa dan hapal sekali mana jalan yang harus dipilih. selepas melintas disungai pertama, mereka harus berjalan menyusuri kampung sebelah. disana mereka mendapati beberapa orang temannya asli kampung situ yang sudah lama menunggu kedatangan mereka. lalu, sekitar 40 orang rombongan anak-anak ini melanjutkan perjalanannya menuju lokasi sekolahan mereka.

 

Orang tua mereka ikut membantu anaknnya menyebrang Sungai

Setelah hampir sepuluh menit berjalan disekitar perkebunan warga, langkah mereka terhenti. tepat didepan mereka, sungai kedua yang harus dilintasi tapi masih aliran sungai cipanyerang yang airnya sangat tenang. Anak lelaki langsung membuka bajunya masing-masing dan bajunya itu dijadikan pembungkus perlengkapan sekolah seperti buku dan alat tulis. saya merasa takjub ketika meliat mereka dengan berani melintasi sungai yang dalamnya sekitar 70 cm, sambil mengangkat tangannya yang memegang baju. celana basah dan badan kedinginan sudah tidak dihiraukan karena yang penting buat mereka adalah baju dan perlengkapan alat tulis. berbeda dengan anak-anak perempuan, baju dan celananya basah terendam air namun sama halnya dengan anak lelaki, tas yang isinya perlengkapan buku dan alat tulis dipegang tangan mereka. disini saya membayangkan, seandainya tiba-tiba hujan dan air semakin tinggi. mungkin inilah resiko yang paling bahaya yang dihadapi anak-anak sekecil ini.

Bukan hanya hanyut terbawa arus namun nyawa mereka juga terancam dengan banjir bandang. tapi alhamdulilah, semua bisa melintas dan mereka melanjukan perjalanannya menyusuri jalan setapak yang kira-kira sejauh 1,5 km. setelah itu mereka dihadapkan kembali dengan sungai yangl lebaranya sekitar 7 meter tapi arusnya lumayan cukup deras. lagi-lagi dengan santainya mereka melintas sungai yang dalamnya sekitar setengah meter itu. keluar dari sungai, hanya sekitar 5 menit berjalan mendaki bukit akhirnya kami sampai di sekolahan SD cileungsir.sampai disana tepat pukul 7.30. kalau mengikuti aturan formal, mungkin anak-anak ini sudah kesiangan. tapi yang terjadi malah sebaliknya.

Tiga guru pengajar mereka tidak datang, besar kemungkinan sekolah diliburkan. memang sangat ironis, jika guru tidak datang anak-anak pasti diliburkan. tapi kedalanya sama, rumah guru mereka letaknya cukup jauh dan untuk sampe disekolahan mereka juga harus berjalan sejauh 7 km dan harus melintasi 2 sungai besar. ketidak hadiran mereka di sekolah bis dipastikan, karena dikampung rumah mereka hujan turun dan air sungai meluap sehingga mereka tidak bisa menyebrang untuk menuju tempat bekerja mereka. sama halnya dengan siswa, jika hujan turun mereka meliburkan diri, bahkan orang tua mereka sengaja melarang mereka untuk pergi sekolah karena air sungai sudah pasti meluap. Di musim hujan, anak-anak bisa belajar hanya dua hari dalam seminggu. dan hal ini sudah biasa, bahkan sebelum anak-anak ini merasakan, kedua orang tua mereka sudah mengalami sebelumnya. kondisi ini terjadi sudah hampir puluhan tahun namun hingga saat ini belum ada satupun dinas dari PEMERINTAH atau DPRD yang peduli terhadap kelangsungan pendidikan warga diselatan Tasikmalaya ini.

~ by timuran151 on August 7, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: