Berusaha Melawan Panik Saat Gempa

Live reportase sore, Gempa tasik.

*** Budhy Pardiana   Allohu akbar..allohu akbar..lailaha’ilaloh. gempa…gempa..  jerit tangis histeris warga itu masih teringat ketika gempa yang berkekuatan 7,3 skala rither menguncang Tasikmalaya. saya merasakan betapa dahsyatnya pergeseran lapisan bumi  itu terasa dipermukaan. kala itu tepat sekitar pukul 14.55 wib saya baru saja tiba dirumah, saat duduk santai mempersiapkan capture gambar liputan demo, tiba-tiba getaran pertama terasa sangat besar.Saya berusaha kelua kamar, tapi getaran yang sangat kuat menjadikan langkah saya sangat sulit untuk mencapai pintu yang tejepit lemari pakaian. dengan sekuat tenaga saya bisa keluar kamar. Suara gemuruh dingding dan suara bangunan yang ambruk dibelakang rumah membuat saya sedikit panik. saat itu saya tidak berani turun lewat tangga yang terliat seperti ombak. saya langsung keluar disamping kamar dan melihat kebawah, tetangga yang panik dan menangis histeris sudah berada diluar. karena panik tadinya saya akan loncat dari lantai dua ke genting tetangga. hanya waktu itu terliat jelas, kala tetanggaku berteriak memintaku untuk segera turun. saat melihat kepanikan itu saya teringat kamera dikamar, waktu itu juga saya langsung lari kekamar sambil menahan goncangan dan behasil membawa kamera. secara nga sadar, saya langsung nyalain kamera dan saya roll sambil memberanikan turun tangga dan lari keluar. Saat itu saya masih sadar, langsung berlari menghampiri orang-orang yang menangis dan mengambil beberapa detik gambar kepanikan. waktu itu goncangan belum berhenti, tiba-tiba saya langsung matikan kamera, dan berteriak seperti orang gila membujuk tetangga yang masih berada didalam rumahnya. secara tidak sadar sambil membawa kamera saya mondar-mandir melihat orang-orang yang berlari dan melihat kekiri kekanan, berjalan kedepan dan kebelakang rumah, keluar masuk masuk gang berkali-kali sambil melihat dingding rumah tetangga yang roboh. waktu itu saya panik, masuk kedalam rumah lagi dan membawa rokok dan membakarnya. saya langsung keluar rumah dan mengambil beberapa gambar kerusakan.. saat saya sadar, diingatkan sama pegawai dirumah, “a ini bulan puasa ” ucapnya.” Astagfirullohal Adzim ” saya langsung menghela napas sambil mematikan rokok. saya langsung ngambil beberapa gambar kerusakan dan warga yang berlari dan berkumpul dipematang sawah. begitu melihat ibu-ibu menjerit sambil berlari keluar gang, saya ambil gambar tapi saat itu saya teringat ibu yang sedang berada diluar rumah. saya panik, panik sekali apalagi saat mencoba menghubungi sama sekali tidak bisa.. sambil memikirkan keluarga, liputan yang belum kelar karena belum ada wawancara saya berusaha menenangkan diri dan berdiam diri didepan rumah. saya langsung menyuruh tetangga untuk mencari ibu. kepanikan muncul lagi saat beberapa temen dikantor menanyakan ancaman tsunami paska gempa. hanya karena komunikasi terputus, saya tidak bisa menghubungi beberapa temen yang rumahnya berada disekitar pantai. Tapi alhamdulilah setelah hampir setengah jam menunggu kabar ibu saya selamat. saat itu juga saya berjalan kebelakang rumah dan melihat rumah-rumah yang roboh dan mewawancarai warga. Suara Ringtone HP nada panggilan dan sms tak henti-hentinya berdering dari keluarga diluar kota dan temen-temen yang menanyakan kabar. setelah semua kepanikan bisa diatasi, saya langsung nyalain komputer dan mengirim gambar tadi. hanya otak sudah butek, saya minta kepada temen dikantor untuk mendikte naskah. alhamdulilah, gambar saya adalah gambar suasana gempa yang pertama muncul dilayar Tv. setelah selesai menyaksikan reportase sore. saya langsung kelur rumah dan mencari informasi mengenai ancaman tsunami, hanya lagi-lagi soal komunikasi. saat itu saya melihat ke beberapa rumah sakit dan daerah-daerah paling parah terkena gempa.. kisah ini saya tulis untuk berbagi pengalaman jika ada gempa disekitar kita. rasa panik, kesedihan orang-orang disekitar kita yang harus kehilangan tempat tinggal campur moral sebagai jurnalis televisi itu yang harus dikuasai. selain orang-orang yang disekitar kita yang jadi objek kita sendiripun sudah menjadi korban gempa.

~ by timuran151 on August 7, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: